Pemerintah Thailand menuai kecaman luas dari berbagai kelompok hak asasi manusia akibat memberikan sambutan karpet merah di Bangkok kepada Presiden Myanmar Min Aung Hlaing.
Berdasarkan pengamatan redaksi Kabayan News, sambutan kenegaraan mewah tersebut menampilkan pasukan kehormatan serta barisan band militer untuk menyambut sang pemimpin junta yang kini bertransisi menjadi presiden sipil.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDari analisis awak media Kabayan News, kunjungan diplomatik ini dimanfaatkan oleh Min Aung Hlaing untuk mencari legitimasi internasional di tengah krisis politik berkepanjangan di negaranya.
Sejumlah aktivis hak asasi manusia menilai langkah Bangkok berisiko memberikan legitimasi kepada rezim militer bertanggung jawab atas berbagai pelanggaran berat selama perang saudara.
Menurut keterangan Tun Khin selaku presiden Burmese Rohingya Organisation UK, tindakan menyambut pimpinan militer Myanmar merupakan langkah keliru dan mencederai rasa keadilan korban konflik.
Pemerintah Thailand sendiri berdalih bahwa pendekatan keterlibatan terkalibrasi ditempuh guna mendorong stabilitas kawasan regional serta menyelesaikan berbagai masalah lintas batas.
Konflik internal di Myanmar terus memanas akibat kudeta tahun 2021 yang menggulingkan pemerintahan sipil terpilih pimpinan Aung San Suu Kyi serta memicu korban jiwa sangat besar.