Penembakan massal di Debsirin Nonthaburi School pada pinggiran Bangkok, Thailand, menyisakan ketakutan mendalam bagi para siswa dan orang tua. Berdasarkan laporan, insiden berdarah ini merenggut nyawa sembilan orang dan melukai 23 lainnya dalam tragedi terburuk sejak 2022.
Khim, siswi berusia 14 tahun, menceritakan kengerian ketika suara tembakan pertama kali terdengar pada Jumat pagi. Pengamatan redaksi mendapati situasi di sekolah berubah panik dalam hitungan detik setelah para guru mengonfirmasi keberadaan pelaku bersenjata di dalam gedung.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"I heard multiple gunshots and felt like we weren't going to survive," ujar Khim menggambarkan momen saat ia bersama teman sekelas memblokir pintu menggunakan meja, mematikan lampu, dan bersembunyi di dekat jendela.
Dari analisis awak media, pelaku yang juga berusia 14 tahun melancarkan aksinya setelah membunuh kakek dan neneknya di rumah pada saat fajar. Pelaku kemudian naik bus menuju sekolah sejauh 18 kilometer sebelum memulai penembakan membabi buta.
Kecemasan luar biasa juga dirasakan oleh Kwan, ibu dari Khim, saat menerima telepon panik dari anak sulungnya yang berada di gedung berbeda. Mengutip laporan investigasi kepolisian, pelaku menggunakan setidaknya 26 peluru dan membawa puluhan amunisi lain sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya.
Pemerintah Thailand kini menjanjikan protokol keamanan baru menyusul terungkapnya latar belakang pelaku yang gemar menonton konten kekerasan online. Peristiwa ini kembali memicu perdebatan sengit mengenai kontrol kepemilikan senjata api di negara tersebut.