Riset terbaru dari Koç University menunjukkan bahwa penyuntingan gen tunggal pada sel beta pankreas belum mampu memberikan perlindungan optimal terhadap serangan sistem kekebalan tubuh pada pasien diabetes tipe 1. Penelitian ini berfokus pada dua target gen, yaitu RNLS dan HIVEP2, yang sebelumnya diidentifikasi memiliki potensi melindungi sel dari kerusakan autoimun.
Studi tersebut dipimpin oleh tim peneliti dari Departemen Teknik Kimia dan Biologi, Fakultas Kedokteran, serta Pusat Riset Kedokteran Translasional Koç University, yang melibatkan İsmail Can Karaoğlu, Arda Odabaş, Prof. Dr. Tamer Önder, dan Prof. Dr. Seda Kızılel. Menggunakan teknologi CRISPR-Cas9, para peneliti menonaktifkan gen RNLS dan HIVEP2 pada garis sel tikus dan manusia sebelum merakitnya menjadi klaster tiga dimensi yang disebut sferoid sel beta.
Berdasarkan hasil pengujian transplantasi pada tikus imunokompeten, penghapusan salah satu dari kedua gen tersebut ternyata tidak memperpanjang masa hidup sel cangkok. Sel yang telah disunting mengalami penolakan oleh sistem imun dengan laju yang serupa seperti sel kontrol tanpa editan, di mana sel manusia hancur lebih cepat dibandingkan sel tikus.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeTemuan ini mengindikasikan bahwa manipulasi pada satu gen saja tidak cukup kuat untuk menghadapi kompleksitas mekanisme penolakan imun. Para peneliti menyarankan agar pendekatan di masa depan memadukan kombinasi modifikasi genetik atau mengintegrasikannya dengan biomaterial imunomodulator guna mencapai terapi penggantian sel yang lebih efektif.
Evaluasi Fungsi Sel dan Prospek Terapi Masa Depan
Sebelum melakukan transplantasi, tim peneliti terlebih dahulu menguji dampak modifikasi genetik terhadap kemampuan respons sel terhadap glukosa. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penonaktifan gen HIVEP2 tidak mengubah fungsi sel secara signifikan, sementara hilangnya gen RNLS menyebabkan penurunan tipis pada sekresi insulin yang diinduksi glukosa pada sel tikus.
Meskipun hasil eksperimen menunjukkan batasan dari kedua target gen tersebut, studi ini memberikan landasan penting dalam mempersempit pencarian metode perlindungan sel transplantasi yang lebih handal. Pemahaman ini sangat krusial untuk mengurangi ketergantungan pasien pada obat imunosupresif jangka panjang.
Penggunaan obat imunosupresif konvensional selama ini kerap memicu risiko komplikasi serius bagi kesehatan pasien, termasuk kerentanan terhadap infeksi dan jenis kanker tertentu. Oleh karena itu, pengembangan terapi penggantian sel beta yang aman terus menjadi fokus utama dunia medis.
Langkah penelitian lanjutan kini diarahkan untuk menemukan strategi multispesifik yang mampu melindungi sel cangkok dari berbagai jalur respons imun. Tim peneliti berharap inovasi ini dapat segera berkontribusi nyata dalam pemulihan fungsi produksi insulin secara mandiri bagi penderita diabetes.