Latihan pernapasan singkat terbukti mampu mencegah lonjakan detak jantung serta kecemasan ketika seseorang harus menghadapi situasi bertekanan tinggi. Dalam studi terbaru yang dipublikasikan pada jurnal Comprehensive Psychoneuroendocrinology, para peneliti menemukan bahwa hanya beberapa menit teknik pernapasan terkontrol dapat menahan kenaikan penanda stres fisiologis selama tugas publik yang menegangkan.
"Pendekatan ini menawarkan cara yang sangat mudah diakses bagi individu di pekerjaan berisiko tinggi untuk mengelola respons tubuh mereka secara langsung," tulis para peneliti dalam laporan studi tersebut.
Stres psikologis akut biasanya memicu reaksi fisiologis yang dikenal sebagai respons "fight or flight" di mana detak jantung meningkat dan pernapasan menjadi lebih cepat. Bagi profesi yang sering menghadapi situasi intens seperti petugas pemadam kebakaran, personel militer, serta petugas kepolisian, mengendalikan reaksi fisik ini sangat penting untuk keselamatan kerja.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMeskipun berbagai intervensi seperti pelatihan khusus atau suplemen telah diuji sebelumnya, banyak di antaranya gagal menurunkan beban fisik akibat stres secara instan. Sebaliknya, latihan pernapasan singkat menawarkan alternatif yang sangat praktis karena tidak memerlukan peralatan khusus dan dapat dilakukan hampir di mana saja.
Efektivitas Box Breathing dan Prolonged Exhalation
Tim peneliti dari Texas State University dan University of Toronto Mississauga mengevaluasi dua intervensi pernapasan super singkat, yakni box breathing dan prolonged exhalation. Box breathing melibatkan proses menarik napas, menahan, mengembuskan, dan menahan kembali napas dalam interval waktu empat detik yang sama persis.
Sementara itu, teknik prolonged exhalation melibatkan pengambilan napas dalam selama tiga detik melalui hidung yang diikuti embusan napas secara sangat perlahan melalui bibir mengerucut. Melalui eksperimen terhadap puluhan partisipan yang menjalani simulasi tugas berbicara di depan umum, kedua teknik terbukti efektif mencegah lonjakan kecemasan.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa partisipan yang mempraktikkan teknik pernapasan terkontrol tidak mengalami lonjakan penanda stres fisiologis seperti yang terjadi pada kelompok kontrol. Namun demikian, studi ini mencatat bahwa latihan pernapasan tersebut tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kecepatan kognitif jangka pendek.
Temuan ini memperkuat bukti bahwa intervensi pernapasan sederhana dapat menjadi alat bantu mandiri yang andal dalam meredam dampak fisik dari tekanan psikologis mendadak. Para peneliti berharap metode ini dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat maupun profesional di berbagai bidang.