Pemberian dosis harian psilocin mucate, garam stabil dari psilocin, terbukti menghasilkan penurunan signifikan pada kadar hormon kortisol serta memperbaiki kecemasan. Dalam studi yang dipublikasikan pada Journal of Psychoactive Drugs, para peneliti mengevaluasi efektivitas senyawa tersebut terhadap hewan uji yang mengalami stres kronis.
"Secara keseluruhan, pemberian dosis harian L-130 mampu menghasilkan perilaku anti-kecemasan, namun studi lebih lanjut diperlukan untuk menentukan dosis optimal dan jadwal pemberian," ungkap para peneliti dalam laporan tersebut.
Gangguan kecemasan merupakan kondisi kesehatan mental yang ditandai oleh rasa takut berlebihan serta kekhawatiran yang mengganggu fungsi keseharian seseorang. Kondisi ini umumnya berkembang melalui kombinasi kerentanan genetik, perbedaan sistem respons stres di otak, serta pengalaman hidup yang penuh tekanan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMeskipun psilocybin efektif meredakan kecemasan, efek samping berupa halusinasi sering kali menjadi hambatan utama dalam pengobatan medis konvensional. Oleh karena itu, para peneliti menguji turunan psilocin yang dirancang untuk memberikan efek terapeutik tanpa memicu halusinasi yang tidak diinginkan.
Hasil Pengujian Perilaku dan Kadar Hormon Kortisol
Dalam eksperimen yang melibatkan puluhan tikus Wistar, hewan-hewan tersebut dibagi ke dalam beberapa kelompok dengan perlakuan berbeda selama periode empat minggu. Kelompok yang menerima psilocin mucate setiap hari menunjukkan performa lebih baik dalam serangkaian tes perilaku untuk mengukur kecemasan.
Sebaliknya, kelompok yang hanya menerima senyawa tersebut satu kali dalam seminggu tidak menunjukkan perubahan atau hasil signifikan secara statistik. Analisis lanjutan terhadap sampel darah juga mengonfirmasi penurunan kadar hormon kortisol secara drastis pada kelompok yang diberi dosis harian.
Kendati demikian, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini baru diuji pada hewan hewan pengerat dan belum tentu memberikan hasil serupa pada manusia. Perbedaan fisiologis yang signifikan antara tikus dan manusia menuntut adanya uji klinis lanjutan di masa mendatang.
Studi ini memberikan wawasan baru dalam pengembangan farmakoterapi alternatif untuk mengatasi gangguan kecemasan melalui pendekatan neurosains modern. Para ilmuwan berharap riset ini dapat membuka jalan bagi pengobatan psikiatrik yang lebih aman dan efektif.