Kebijakan penandaan khusus pada teks buatan model kecerdasan buatan Claude yang dirilis Anthropic baru-baru ini langsung memicu perdebatan sengit di antara para penulis dan pengembang teknologi global.
Berdasarkan laporan dari berbagai media teknologi terkemuka, para kreator yang menggunakan Claude untuk menyunting tulisan pribadi merasa keberatan karena karya mereka kini dapat terdeteksi sebagai produk bantuan AI.
Di sisi lain, para pengembang menyoroti dilema penempatan watermark tersebut, sementara proyek sumber terbuka mulai bermunculan untuk mencari celah dalam menghindari atau mengganggu sistem penandaan tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeAnthropic sendiri menyatakan bahwa sistem penandaan ini dirancang guna mematuhi Pasal 50 Regulasi AI Uni Eropa atau EU AI Act yang mewajibkan penyedia sistem AI generatif memberikan tanda terbaca mesin pada konten buatan mereka.
Kendati demikian, implementasi aturan ini tidak serta-merta mutlak karena regulasi tersebut mengecualikan teks bebas di bawah 200 token serta proses penyuntingan standar seperti koreksi tata bahasa dan penerjemahan.
Dari analisis Kabayan News, kehadiran watermark teks ini tidak secara otomatis membuktikan bahwa AI bertindak sebagai penulis utama, mengingat teks yang telah melalui proses sunting, terjemahan, atau modifikasi ekstensif masih rentan memicu kesalahan deteksi maupun lolos dari sistem.