Agenda hilirisasi mineral nasional memerlukan lompatan strategi radikal agar tidak berhenti pada peningkatan kapasitas produksi semata.
Berdasarkan pengamatan Kabayan News, keberhasilan hilirisasi sangat bergantung pada keberanian Indonesia menguasai seluruh rantai teknologi mulai dari proses pemurnian hingga tahap manufaktur.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeHal tersebut ditegaskan oleh Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Andalas, Is Prima Nanda, dalam keterangannya di Jakarta.
Menurut Is Prima Nanda, tantangan terbesar bangsa saat ini bukan lagi sekadar ketersediaan cadangan mineral melainkan kemampuan membangun kapabilitas teknologi nasional secara utuh.
"Untuk naik ke produk teknologi bernilai tinggi, Indonesia perlu menguasai teknologi pemurnian, rekayasa material, desain produk, hingga proses manufakturnya," ujar Is Prima Nanda.
Ia menjelaskan bahwa material merupakan fondasi utama bagi hampir seluruh industri berbasis teknologi modern saat ini.
Komoditas seperti nikel, tembaga, bauksit, timah, hingga logam tanah jarang baru memberikan nilai tambah optimal bila mampu diolah menjadi material maju.
Material berkinerja tinggi tersebut kelak menjadi penopang sektor strategis mulai dari baterai kendaraan listrik hingga industri pertahanan.