Kabayan News Kabayan News
/home / ekonomi / Ekonomi China Tumbuh 4,3 Persen,...
EKONOMI

Ekonomi China Tumbuh 4,3 Persen, Terlambat Sejak Akhir 2022

Persiapan pengiriman alat berat dan mobil melalui jalur kereta api di Yantai, Shandong, China

Persiapan pengiriman alat berat dan mobil melalui jalur kereta api di Yantai, Shandong, China

Pertumbuhan ekonomi China mengalami perlambatan tajam pada kuartal kedua (April-Juni) tahun 2026 menjadi 4,3 persen secara tahunan (annualized). Angka resmi yang dirilis oleh pemerintah China pada hari Rabu ini menjadi catatan laju pertumbuhan paling lemah dalam kurun waktu lebih dari tiga tahun terakhir.

Data resmi ini meleset dari perkiraan para analis dan berada jauh di bawah performa kuat kuartal pertama Januari-Maret yang mampu mencapai 5 persen. Perlambatan ini tetap terjadi meskipun China sempat menikmati lonjakan ekspor yang didorong oleh tren kecerdasan buatan (AI) serta tingginya permintaan global untuk kendaraan listrik asal Negeri Tirai Bambu tersebut.

Sejauh ini, perekonomian China relatif kebal dari dampak ekonomi global akibat perang Iran yang memicu kenaikan harga energi dan inflasi dunia. Data bea cukai setempat menunjukkan nilai ekspor China berhasil melonjak hingga 17,6 persen pada paruh pertama tahun ini jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, bahkan melesat 27 persen pada bulan Juni saja.

Namun, tingginya angka ekspor tidak dibarengi dengan belanja domestik dan investasi yang kuat di dalam negeri. Sektor manufaktur ekspor belum cukup kuat mendongkrak perekonomian yang masih tertatih-tatih mencari momentum pemulihan total sejak sebagian wilayah China memberlakukan lockdown ketat selama pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu.

"Ini adalah pertumbuhan kuartalan paling lambat untuk wilayah China sejak kuartal keempat tahun 2022 yang saat itu masih terdampak kebijakan lockdown," ujar Lynn Song, kepala ekonom untuk Greater China di ING Bank melalui catatan resminya.

Sejumlah ekonom menilai struktur ekonomi China kini menjadi semakin tidak seimbang. Pasalnya, dukungan besar dari pemerintah dan investasi swasta mengalir deras ke teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan (AI), chip komputer, dan robotika, sementara manufaktur bernilai rendah dan industri jasa yang menyerap banyak tenaga kerja justru merosot.

Ekspor produk teknologi tinggi memang meningkat tajam lantaran para pemimpin China menempatkan pengembangan teknologi canggih sebagai prioritas utama negara. Akibat subsidi besar-besaran ini, China mencetak rekor surplus perdagangan global sebesar 1,2 triliun dolar AS tahun lalu, yang langsung memicu protes dari para pembuat kebijakan negara barat terkait ketidakseimbangan pasar.

Di sisi lain, ekspansi masif di bidang AI dan robotika juga memicu kekhawatiran domestik mengenai ketersediaan lapangan kerja baru yang cukup bagi masyarakat dalam jangka panjang. Profesor ekonomi dan kebijakan perdagangan di Cornell University, Eswar Prasad, menyatakan bahwa model pertumbuhan China menjadi kian tidak seimbang karena terlalu bergantung pada sektor ekspor.

Mao Shengyong selaku Wakil Kepala Biro Statistik Nasional China mengakui situasi global saat ini semakin tidak stabil dan penuh ketidakpastian. Ia menegaskan bahwa ketimpangan antara pasokan yang kuat di pasar dan permintaan domestik yang masih melemah masih menjadi persoalan yang sangat akut di dalam negeri.

Menyoroti titik lemah ekonomi Beijing, investasi pada aset tetap seperti peralatan pabrik turun 5,7 persen secara tahunan pada paruh pertama tahun ini. Penjualan ritel barang-barang konsumsi hanya mampu naik tipis 1,3 persen, sementara harga properti dan perumahan di sana dilaporkan terus merosot tajam.

Wei Li, Head of Multi-Asset Investments di BNP Paribas Securities (China), mengomentari situasi ini dengan menyebut perekonomian China saat ini sedang melewati fase transisi yang sangat signifikan menuju kualitas pertumbuhan yang baru.

Untuk keseluruhan tahun 2026, para pemimpin China menetapkan target pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,5 persen hingga 5 persen, lebih lambat dibandingkan capaian tahun lalu sebesar 5 persen. Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) baru-baru ini menaikkan perkiraan pertumbuhan tahunan China sebesar 0,2 poin persentase menjadi 4,6 persen.

// TOPICS
#ekonomi_china #pertumbuhan_ekonomi #kuartal_ii_2026 #global_business #ekspor_impor #pasar_asia
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.