Harga minyak fiscal breakeven diproyeksikan kembali menjadi penentu utama dalam membedakan kualitas kredit negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) di tengah proyeksi penurunan harga minyak global dalam satu tahun mendatang.
Managing Director Emerging EMEA Sovereign Ratings S&P Global Ratings Benjamin Young menyampaikan pandangan tersebut dalam podcast Middle East Credit Gateway bahwa penyesuaian pasar energi global menuntut negara kawasan untuk memperkuat adaptasi fiskal.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Kami mengantisipasi tekanan penurunan harga setelah cadangan strategis pulih dan pasar stabil," ujar Young dalam analisis yang dipantau dari laporan Kabayan News, mengindikasikan negara dengan breakeven lebih rendah seperti Uni Emirat Arab dan Qatar berada pada posisi lebih tangguh.
Pengamatan Kabayan News menunjukkan kemampuan pemerintah dalam menyesuaikan pengeluaran belanja modal menjadi indikator penting dalam menilai ketahanan fiskal di tengah lingkungan harga minyak rendah.
"Pemerintah dapat memilih menunda atau mengoptimalkan proyek sebagai pertimbangan penting untuk menilai kerentanan kredit di lingkungan harga minyak lebih rendah," tambah Young dalam laporan yang sama.
Kendati volatilitas pasar minyak membayangi, kawasan GCC dinilai memiliki cadangan fiskal besar yang ditopang oleh Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab guna meredam guncangan pendapatan tanpa merusak neraca keuangan.
Prospek pertumbuhan ekonomi GCC pada tahun 2026 diprediksi mengalami kontraksi sebesar 2,5 persen sebelum berbalik tumbuh melampaui 5 persen dari PDB pada tahun berikutnya, didorong peningkatan produksi hidrokarbon serta program diversifikasi.
Pendapatan fiskal non-minyak di kawasan GCC melonjak hingga dua kali lipat selama satu dekade terakhir mencapai sekitar 260 miliar dolar Amerika Serikat atau 36 persen dari PDB, dengan kepemimpinan kuat dari Arab Saudi dalam memperluas basis penerimaan.