Stalemate Selat Hormuz memicu ancaman serius lonjakan harga minyak mentah dunia hingga menyentuh level 120 dolar per barel dalam beberapa waktu ke depan. Berdasarkan pengamatan Kabayan News, pasar energi global saat ini dihadapkan pada ketidakpastian tinggi akibat kebuntuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait jalur distribusi vital tersebut.
Mengutip laporan dari Oilprice.com, para trader dan analis pasar energi harus menimbang dua skenario besar selama berbulan-bulan terakhir. Skenario tersebut mencakup perang berkepanjangan dengan gangguan pasokan parah di Selat Hormuz serta harapan kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran yang dapat membebaskan jutaan barel minyak tertahan di Teluk Persia.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerdasarkan analisis Kabayan News, ketegangan politik yang melibatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pihak Iran terus mewarnai dinamika pergerakan harga komoditas global. Situasi ini membuat harga minyak mentah kerap mengalami fluktuasi tajam seiring klaim sepihak kedua belah pihak atas kontrol wilayah perairan strategis tersebut.
Menurut Kieran Tompkins selaku senior climate and commodities economist di Capital Economics, pasar minyak global dapat mencapai titik kritis menjelang awal kuartal keempat jika jalur pelayaran tetap tertutup. "Kondisi ini konsisten dengan lonjakan harga jauh lebih tinggi, bahkan berpotensi mencapai kisaran 120 hingga 140 dolar per barel berdasarkan pola historis," ungkapnya.
Sementara itu, Ole Hansen selaku Head of Commodity Strategy di Saxo Bank menilai bahwa tekanan terbesar saat ini justru terjadi pada produk olahan minyak seperti diesel, gasoil, dan bahan bakar pesawat. Penurunan aktivitas kilang di Timur Tengah dan Rusia mendorong margin pemurnian ke level luar biasa di tengah menyusutnya cadangan strategis global.