Board game populer Monopoly selalu mengajarkan pelajaran ekonomi penting seperti keuntungan memiliki properti hingga potensi laba dari merger. Kini, sebuah edisi khusus dari game tersebut memberikan pelajaran baru mengenai betapa sulitnya memproduksi barang berlabel "Made in the USA".
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Langkah ini diambil oleh WS Game Company yang biasanya memproduksi sebagian besar board game kelas atas mereka di China. Setelah terkena tagihan tarif impor senilai tujuh digit tahun lalu, CEO Jonathan Silva memutuskan untuk menguji apakah mungkin memproduksi board game yang menguntungkan di Amerika Serikat.
Jonathan Silva memilih versi kustom Monopoly untuk memperingati ulang tahun ke-250 Amerika Serikat. Namun, eksperimen ini hampir saja gagal total karena masalah rantai pasok. Salah satu kendala terbesar yang dihadapi adalah tidak adanya produsen dadu lokal, sehingga mereka terpaksa menggunakan dadu impor.
Proses pengumpulan seluruh komponen dari berbagai pemasok memakan waktu lebih dari satu tahun, membuat WS Game Company melewatkan paruh pertama musim penjualan. Ditambah lagi, biaya manufaktur game yang dijual seharga 80 dolar AS ini membengkak hingga dua kali lipat dibanding jika diproduksi di China.
"Ketika saya membuat pesanan di China, mereka memiliki semua kapabilitas tersebut di bawah satu atap," ujar Jonathan Silva. Dia menambahkan bahwa untuk satu produk ini saja, perusahaan harus menghabiskan terlalu banyak sumber daya dan waktu demi membawanya ke pasar.
Saat ini, hampir 80 persen mainan dan game yang dijual di Amerika Serikat diproduksi di China. Negara tersebut telah menghabiskan waktu puluhan tahun untuk membangun ekosistem pabrik yang tidak hanya memasok produk jadi, tetapi juga seluruh suku cadang khusus yang dibutuhkan.
President dan CEO The Toy Association, Greg Ahearn, menyatakan bahwa memindahkan produksi kembali ke Amerika Serikat atau ke negara lain tidak semudah yang terdengar. Menurutnya, AS lebih cocok memproduksi barang strategis, bukan mainan yang memiliki margin keuntungan rendah.
"Bahkan jika Anda bisa, siapa orang waras yang mau menginvestasikan modalnya untuk membangun pabrik manufaktur mainan di AS?" kata Greg Ahearn menekankan sulitnya industri ini bersaing secara domestik.
Meskipun Jonathan Silva kini sibuk memasarkan Monopoly edisi Amerika tersebut, dia tetap mempertahankan produksi board game lainnya di China. Dia menilai Amerika Serikat memang hebat dalam banyak hal, namun tidak untuk memproduksi barang konsumsi tertentu.
Kini, WS Game Company tengah menunggu pengiriman game senilai sekitar 6 juta dolar AS dari China untuk musim liburan mendatang. Walau belum tahu pasti berapa tagihan tarif impor yang akan dihadapi nanti, Jonathan Silva mengaku siap menghadapi risiko tersebut.