Kabayan News Kabayan News
/home / ekonomi / Krisis Selat Hormuz, Irak Putar Otak...
EKONOMI

Krisis Selat Hormuz, Irak Putar Otak Lewati Jalur Mediterania

By Bambang Prasetyo 2 min read 21 Agustus 2026
Irak berupaya mengalihkan jalur ekspor minyak melalui Laut Mediterania akibat krisis Selat Hormuz

Irak berupaya mengalihkan jalur ekspor minyak melalui Laut Mediterania akibat krisis Selat Hormuz

Krisis akibat perang di kawasan Teluk memaksa Irak mencari jalur alternatif untuk menyelamatkan ekonomi negara yang sangat bergantung pada ekspor minyak melalui Selat Hormuz. Sebelum konflik pecah, Irak mampu mengekspor sekitar 3,5 juta barel minyak mentah per hari dengan pendapatan bulanan mencapai USD 7 miliar yang membiayai seluruh kebutuhan anggaran negara.

Namun, penutupan pengiriman melalui Selat Hormuz membuat ekspor minyak Irak anjlok lebih dari 85 persen antara bulan Maret hingga Juni. Pendapatan bulanan negara bahkan merosot tajam hingga di bawah USD 1,5 miliar, menyebabkan defisit anggaran melonjak hampir tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Situasi darurat ini berdampak langsung pada stabilitas finansial pemerintah, termasuk penundaan pembayaran gaji sektor publik dan kesulitan kementerian dalam membeli pasokan medis dasar. Para pejabat pemerintah kini menganggap pencarian jalur ekspor baru bukan lagi sekadar aspirasi jangka panjang, melainkan sebuah kebutuhan darurat yang mendesak.

Sebagai langkah strategis, Baghdad mulai membahas pemulihan dan pembangunan pipa minyak baru yang menghubungkan ladang minyak di Irak menuju pelabuhan Baniyas di Suriah dan Tripoli di Lebanon. Selain itu, pemerintah juga berupaya meningkatkan kapasitas aliran melalui Pipa Irak-Turki untuk mendiversifikasi rute pengiriman energi.

Tantangan Berat Proyek Pipa Minyak Mediterania

Rencana besar untuk merevitalisasi koridor ekspor melalui Suriah dan Lebanon menghadapi berbagai hambatan besar, mulai dari masalah finansial, teknis, hingga keamanan. Proyek ambisius ini memerlukan pembangunan pipa sepanjang ratusan kilometer dari ladang minyak Basra menuju kota gurun Haditha di bagian barat Irak.

Fasilitas pelabuhan di tujuan akhir juga memerlukan investasi besar karena kapasitas saat ini masih sangat terbatas untuk menampung volume minyak mentah yang besar. Pelabuhan Baniyas di Suriah saat ini hanya mampu melayani satu kapal tanker Aframax setiap tujuh hingga sepuluh hari, sementara fasilitas di Tripoli membutuhkan perbaikan menyeluruh.

Di tengah krisis keuangan yang mendalam, pemerintah Irak dihadapkan pada dilema besar antara membiayai kebutuhan mendesak seperti gaji pegawai negeri atau mengalokasikan dana miliaran dolar untuk proyek infrastruktur jangka panjang. Negara tetangga seperti Suriah dan Lebanon juga menghadapi kendala pendanaan serupa untuk memodernisasi infrastruktur pelabuhan mereka.

Faktor keamanan di sepanjang jalur pipa yang melintasi wilayah barat Irak dan timur Suriah tetap menjadi ancaman nyata yang harus dihadapi oleh para pemangku kepentingan. Kondisi ini membuat rencana diversifikasi ekspor minyak melalui Laut Mediterania menjadi sebuah pertaruhan besar bagi masa depan ekonomi Irak.

Topics
irak selat hormuz ekspor minyak laut mediterania basra baniyas turki timur tengah energi ekonomi
Jurnalis Politik & Ekonomi Senior

Bambang telah menghabiskan dua dekade terakhir meliput dunia politik dan ekonomi Indonesia. Dari gedung DPR hingga Istana Negara, ia telah menyaksikan dan melaporkan peristiwa-peristiwa penting yang membentuk negeri ini. Tulisannya tajam, mendalam, dan selalu mengedepankan fakta serta analisis yang jernih bagi pembaca Kabayan News.