Pasokan minyak global menghadapi kekurangan pasokan hingga 4 juta barel per hari akibat penurunan ekspor dari berbagai negara produsen utama dunia. Berdasarkan data terbaru dari firma intelijen pasar Vortexa, volume minyak mentah di dalam kapal tanker mengalami penurunan tercepat dalam dua pekan terakhir.
David Wech selaku Kepala Ekonom Vortexa menyatakan bahwa kendala utama saat ini bukan lagi semata-mata berasal dari kawasan perairan Selat Hormuz. Eskalasi gangguan pasokan justru terjadi akibat penurunan ekspor dari sejumlah negara produsen kunci akibat berbagai faktor keamanan dan domestik.
Ekspor minyak dari Rusia mengalami penurunan akibat serangan pesawat tanpa awak dari Ukraina. Sementara itu, ekspor Iran terhambat oleh blokade Amerika Serikat, dan Arab Saudi menghadapi gangguan akibat serangan di Laut Merah.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBagi Amerika Serikat yang berperan sebagai pemasok cadangan masa perang, kendala utama bersumber dari faktor politik dan ekonomi domestik. Cadangan minyak strategis yang sebelumnya diizinkan telah habis tanpa adanya rencana tambahan dari pemerintah.
Konsumen di Asia Rasakan Dampak Penurunan Pasokan Minyak
Konsumen di kawasan Asia diprediksi akan merasakan dampak kenaikan harga minyak secara langsung dan paling awal dalam beberapa pekan mendatang. Peningkatan aktivitas kilang di China terjadi berbarengan dengan minimnya volume pengiriman minyak melalui jalur laut menuju kawasan tersebut.
Kondisi tersebut memaksa pasar untuk mengandalkan cadangan minyak yang ada pada bulan depan, yang berpotensi memicu lonjakan harga lanjutan. Penipisan tangki penyimpanan minyak di berbagai wilayah menjadi indikator utama pemicu kenaikan harga di pasar internasional.
David Wech menambahkan bahwa dinamika pasar energi saat ini telah berada dalam situasi yang sangat berbeda dibandingkan sebelumnya. Sebagian pelaku pasar dinilai belum sepenuhnya menyadari perubahan mendasar dalam struktur suplai energi global ini.
Defisit pasokan yang mencapai 4 juta barel per hari menuntut adanya penyesuaian strategi dari negara-negara konsumen utama dunia. Tanpa adanya pasokan pengganti yang memadai, tekanan terhadap harga energi global dipastikan akan terus berlanjut.