Gedung AA Maramis berdiri megah di kompleks Kementerian Keuangan Indonesia, Jakarta Pusat, sebagai salah satu saksi bisu sejarah kolonial Belanda di Tanah Air. Bangunan ini memiliki nilai historis tinggi karena menjadi bangunan tertua kedua di Jakarta Pusat setelah Istana Negara, dengan arsitektur klasik yang masih terjaga hingga kini.
Pembangunan gedung ini digagas oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels, pada 7 Maret 1809. Ambisi utamanya adalah memindahkan pusat pemerintahan dari Kastil Batavia di muara Sungai Ciliwung ke wilayah Weltevreden yang dianggap lebih sehat setelah maraknya wabah malaria di kota tua.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMeskipun Daendels yang merancang gedung ini, ia tidak pernah sempat mendiaminya karena harus menjalankan tugas militer di Polandia. Pembangunan sempat terhenti akibat invasi Britania Raya ke Jawa pada 1811, hingga akhirnya baru diselesaikan 15 tahun kemudian oleh Gubernur Jenderal du Bus de Gisignies pada 1828.
Setelah rampung, bangunan ini dikenal dengan sebutan Istana Daendels atau "Gedung Putih". Seiring berjalannya waktu, fungsi gedung ini terus berganti, mulai dari kantor departemen pemerintah hingga kini menjadi pusat operasional Kementerian Keuangan RI untuk menghormati Alexander Andries Maramis, Menteri Keuangan kedua Indonesia.
Desain Ikonik Gaya Imperium Hindia
Keunikan gedung ini terletak pada konstruksinya yang memanfaatkan sisa batu bata dari Kastil Batavia dan tembok kota lama yang dibongkar pada masa itu. Struktur bangunan mencakup gedung utama sepanjang 160 meter yang diapit dua sayap samping, mencerminkan kejayaan arsitektur pada masanya.
Desain Gedung AA Maramis dirancang oleh arsitek J.C. Schultze dengan mengadopsi gaya Imperium yang sangat populer di Prancis pada awal abad ke-19. Gaya ini kemudian dimodifikasi agar lebih adaptif terhadap iklim tropis Indonesia, sehingga melahirkan langgam yang dikenal dengan nama Gaya Imperium Hindia.
Bagian utama gedung terdiri dari dua lantai yang dirancang mewah untuk kediaman gubernur jenderal. Sementara itu, dua sayap di sisi kiri dan kanan difungsikan sebagai pusat administrasi, wisma tamu, hingga kandang untuk 120 kuda serta rumah kereta kencana, menunjukkan skala pembangunan yang sangat megah pada zamannya.
Meski memiliki nilai arsitektur tinggi, pada masa kolonial gedung ini sempat menuai kritik dari sejumlah pihak karena tampilannya dianggap besar namun kurang estetis. Di bagian belakang gedung dulunya terdapat taman kecil bernama Tuin Du Bus, namun minim vegetasi yang tumbuh subur karena kondisi lahan yang kurang mendukung.