Obligasi pemerintah India bergerak dalam rentang ketat pada perdagangan hari Rabu di tengah bayang-bayang kenaikan harga minyak mentah dunia serta penantian investor terhadap rilis data inflasi domestik maupun Amerika Serikat. Berdasarkan pengamatan Kabayan News, imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun tercatat tidak banyak berubah pada level 6,7822 persen menjelang siang hari waktu setempat.
Kenaikan harga minyak mentah global dipicu oleh eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah setelah laporan serangan terhadap kapal kargo serta ketegangan di Selat Hormuz. Kontrak berjangka minyak Brent mencatatkan kenaikan lanjutan hingga mencapai level USD 89,6 per barel. Kondisi tersebut memberikan tekanan psikologis bagi pasar keuangan India mengingat status negara tersebut sebagai importir bersih minyak.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMenurut analisis Kabayan News, lonjakan biaya energi berpotensi mengerek angka inflasi domestik serta memperberat beban fiskal negara. Fokus pelaku pasar kini tertuju pada rilis angka inflasi ritel India yang dijadwalkan rilis sore hari, dengan perkiraan konsensus ekonom menunjukkan kenaikan tipis dibandingkan bulan sebelumnya.
Di sisi lain, ekspektasi pengetatan kebijakan lanjutan dari Reserve Bank of India, atau RBI, terpantau mulai mereda setelah bank sentral mempertahankan suku bunga acuan pada pekan lalu. Kendati demikian, bayang-bayang data inflasi Amerika Serikat yang akan diumumkan setelah penutupan pasar Asia tetap menjadi faktor penentu arah pergerakan imbal hasil obligasi global.
"Imbal hasil tenor 10 tahun terkunci dalam rentang 6,76 persen hingga 6,80 persen dan sangat sulit menembus kedua sisi tersebut akibat sentimen global yang saling silang," ujar seorang dealer bank swasta sebagaimana dikutip dari laporan media asing. Selain faktor eksternal, stabilitas pasar domestik turut ditopang oleh derasnya aliran masuk dana asing melalui skema deposito diaspora.
Data resmi dari bank sentral menunjukkan total dana masuk dari program tersebut telah melampaui USD 36,7 miliar hingga pertengahan bulan Juli. Kombinasi aliran likuiditas tersebut serta ekspansi belanja pemerintah berhasil mendongkrak surplus kas harian perbankan India ke posisi tinggi pada bulan Agustus.