Pasar saham Amerika Serikat merosot di tengah lonjakan harga minyak mentah yang dipicu oleh konflik berkepanjangan dengan Iran, sementara para pelaku pasar menanti data ekonomi terbaru dari pemerintah. Berdasarkan laporan Business Standard, indeks utama Wall Street kompak melemah seiring kekhawatiran investor terhadap potensi kenaikan inflasi lanjutan.
Indeks S&P 500 turun 0,3 persen menyusul penurunan moderat sehari sebelumnya, sementara Dow Jones Industrial Average merosot 184 poin atau 0,3 persen. Tidak ketinggalan, komposit Nasdaq juga mengalami tekanan sebesar 0,6 persen akibat aksi jual di berbagai sektor.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePergerakan harga minyak dunia mencatatkan volatilitas tinggi setelah sempat menembus level USD 90 per barel pada perdagangan pagi sebelum akhirnya menetap di angka USD 88,91 per barel. Lonjakan harga energi tersebut mendorong rata-rata harga bensin di Amerika Serikat naik signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Pemerintah Amerika Serikat dijadwalkan merilis data inflasi bulanan terbaru dengan ekspektasi penurunan tipis menjadi 3,4 persen pada Juli dari 3,5 persen di bulan sebelumnya. Menanggapi situasi ini, para pejabat Federal Reserve masih terbelah dalam menentukan arah kebijakan suku bunga acuan selanjutnya guna meredam tekanan harga.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat turut mendongkrak suku bunga KPR jangka panjang ke level tertinggi dalam setahun terakhir akibat kekhawatiran perang. Di pasar global, bursa saham di Eropa dan Asia bergerak bervariasi dengan Indeks Hang Seng di Hong Kong mencatatkan penurunan tajam sebesar 1,1 persen.