Pasar modal Indonesia tengah menghadapi ujian berat di tengah dinamika global dan domestik yang kurang bersahabat. Indeks LQ45 yang selama ini diisi oleh deretan saham paling likuid di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpeleset cukup dalam sejak awal tahun atau year-to-date.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan data pasar, koreksi tajam pada indeks unggulan ini bahkan mencapai 27,85 persen. Tekanan masif tersebut dipicu oleh berbagai faktor eksternal, mulai dari derasnya arus keluar dana asing atau net sell hingga ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat serta Israel melawan Iran.
Selain sentimen geopolitik global, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut memperkeruh sentimen investor di lantai bursa. Kondisi makroekonomi yang penuh ketidakpastian ini membuat para pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati dan menghindari aset berisiko tinggi.
Di tengah gelombang tekanan dan koreksi massal yang melanda sebagian besar emiten berkapitalisasi besar, situasi kontras justru terlihat pada segelintir emiten. Tercatat hanya ada sembilan saham di dalam jajaran LQ45 yang masih mampu bertahan di zona hijau dan mencatatkan penguatan sepanjang tahun ini.
"Kondisi pasar saat ini memang menuntut kehati-hatian ekstra dari para investor menghadapi volatilitas global," ujar salah satu pengamat pasar modal menyikapi tren pelemahan indeks LQ45 tersebut.