Kabar terbaru datang dari sektor pertambangan tanah air. Forum Industri Nikel Indonesia atau FINI mengajukan usulan penting terkait pengembangan logam tanah jarang bagi para pelaku usaha pengolahan mineral yang sudah beroperasi saat ini.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah menyampaikan bahwa perusahaan smelter nikel eksisting sebaiknya diberikan dua pilihan strategis. Opsi tersebut meliputi peran sebagai pemasok bahan baku maupun sebagai pihak yang melakukan pengolahan langsung.
Menurut Arif, smelter yang telah lama berdiri bisa saja hanya bertindak untuk memasok residu atau bahan baku awal logam tanah jarang guna diolah lebih lanjut oleh industri lanjutan yang lebih siap secara teknologi.
Selain itu, fasilitas pengolahan nikel yang ada juga dapat didorong secara bertahap menuju tahap hilirisasi yang lebih mendalam. Langkah ini tentu harus dibarengi dengan kajian mendalam serta tingkat keekonomian yang menjanjikan bagi para investor.
"Industri nikel yang saat ini telah beroperasi dapat diberikan sejumlah pilihan peran. Smelter, misalnya, dapat berfungsi sebagai penyedia bahan baku atau residu awal dengan skema recovery dan insentif yang wajar," ujar Arif saat memberikan keterangannya.
Lebih lanjut, ia juga menambahkan bahwa opsi kedua membuka peluang bagi smelter untuk melakukan ekspansi pengolahan ke tahap hilir. Namun, kebijakan tersebut perlu disesuaikan dengan kesiapan teknologi dan nilai keekonomian di lapangan agar tidak memberatkan pelaku industri.