Produk buatan manusia masih menjadi primadona di berbagai marketplace digital meskipun teknologi kecerdasan buatan atau AI membanjiri pasar. Data terbaru dari marketplace model 3D, CGTrader, menunjukkan bahwa aset yang dihasilkan AI hanya menyumbang 1 dolar dari setiap 90 dolar pendapatan yang dihasilkan, atau hanya sebesar 2,6 persen dari total penjualan.
Laporan tersebut mencatat bahwa hanya 5 persen pelanggan CGTrader merasa aset AI bekerja dengan baik, sementara 20 persen lainnya justru menganggap aset tersebut tidak memadai. Fakta ini terjadi di tengah pesatnya unggahan aset AI yang mencapai satu dari setiap enam model yang diunggah ke platform tersebut sejak pertengahan 2025.
CEO CGTrader, Dalia Lasaite, menegaskan bahwa penolakan konsumen bukan berarti mereka membenci teknologi AI, melainkan karena mereka sangat mengutamakan kualitas. "Pembeli mencari kualitas tinggi saat berbelanja di marketplace, sehingga mereka cenderung lebih memilih model 3D yang dibuat manusia," ujar Lasaite.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeFenomena ini mencerminkan pergeseran preferensi konsumen yang mulai selektif terhadap produk berbasis otomatisasi. Riset dari Pew Research Center juga mendukung sentimen ini, dengan 52 persen orang dewasa Amerika Serikat mengaku lebih khawatir dibandingkan merasa antusias terhadap penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari.
AI Sebagai Alat Bantu, Bukan Pengganti Kreativitas
Dennis Zhang, profesor pemasaran dan teknologi di Olin Business School, Universitas Washington di St. Louis, menilai tren ini menunjukkan bahwa konsumen akan tetap menghargai dimensi manusia. Analisisnya terhadap peluncuran aplikasi berbasis AI menunjukkan bahwa aplikasi dengan bantuan AI sering kali kurang menarik dibandingkan produk buatan manusia.
Kurangnya pengalaman dari perancang aplikasi berbasis AI menjadi kendala utama dalam hal antarmuka pengguna atau user interface yang dirasa kurang optimal. Di sisi lain, konsumen secara psikologis juga cenderung mencari produk yang memiliki sentuhan nilai tambah dari kreativitas manusia yang tidak bisa direplikasi sepenuhnya oleh mesin.
Zhang memprediksi masa depan ekonomi akan melihat pergeseran nilai di mana konsumen akan lebih menghargai aspek-aspek produk yang tidak mungkin dibuat oleh AI. Hal ini menegaskan bahwa AI akan mentransformasi dunia kerja alih-alih menggantikan peran manusia secara total.
Senada dengan hal tersebut, pelaku industri kini mulai beradaptasi dengan menjadikan AI sebagai pendukung produktivitas, bukan pengganti peran utama. "Seiring berjalannya waktu, kita menyadari bahwa AI akan menjadi bagian dari hidup dan kita beradaptasi untuk menjadi lebih produktif," tambah Lasaite terkait adaptasi para kreator.