Ringgit menguat terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat (15/8/2026) setelah pemerintah Malaysia merilis data pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II 2026 sebesar 6,0 persen. Pencapaian ini berada di atas estimasi konsensus pasar yang sebelumnya memprediksi angka 5,8 persen.
Pergerakan positif mata uang lokal tersebut juga dipengaruhi oleh pelemahan indeks dolar AS sebesar 0,17 persen ke level 99,798 poin. Kondisi ini terjadi menyusul data inflasi Amerika Serikat, yakni Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI), yang tercatat lebih rendah dari perkiraan.
Chief Economist Bank Muamalat Malaysia Bhd, Dr Mohd Afzanizam Abdul Rashid, menilai ekonomi Malaysia menunjukkan resiliensi di tengah ketidakpastian ekonomi global. "Pertumbuhan PDB kuartal II 2026 yang mencapai 6,0 persen mengindikasikan ekonomi domestik tetap kuat," ujarnya dikutip dari laporan media.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeData Bank Negara Malaysia (BNM) menunjukkan pertumbuhan tersebut didorong oleh permintaan domestik yang stabil serta kinerja ekspor yang solid. Pengeluaran rumah tangga ditopang oleh pertumbuhan pendapatan yang konsisten, sementara investasi tetap menjadi motor utama melalui belanja infrastruktur serta mesin peralatan.
Dukungan Ekspor dan Kinerja Mata Uang Regional
Selain permintaan dalam negeri, sektor ekspor Malaysia mencatat akselerasi signifikan. Produk listrik dan elektronik (E&E) menjadi penyumbang utama, disusul oleh pemulihan ekspor gas alam cair (LNG) serta sektor manufaktur non-E&E yang terus berekspansi.
Meskipun perkasa di hadapan dolar AS, ringgit tercatat bergerak variatif terhadap mata uang regional dan utama lainnya pada penutupan sesi sore. Ringgit sempat melemah tipis terhadap yen Jepang serta euro akibat sentimen pasar global yang dinamis.
Sementara itu, terhadap mata uang tetangga seperti peso Filipina dan baht Thailand, ringgit sempat mencatatkan penguatan tipis. Namun, mata uang lokal ini mengalami tekanan terhadap rupiah Indonesia dan dolar Singapura pada penutupan pasar hari ini.
Secara keseluruhan, konsistensi kebijakan moneter dan fundamental ekonomi yang kokoh dinilai menjadi jangkar utama bagi kepercayaan investor terhadap aset keuangan Malaysia. Bank Negara Malaysia terus memantau stabilitas makroekonomi untuk menjaga tren pertumbuhan positif hingga akhir tahun 2026.