Peristiwa Black Monday merupakan hari paling kelam dalam sejarah pasar keuangan global ketika bursa saham mengalami kejatuhan secara drastis dan mengejutkan pada Senin, 19 Oktober 1987. Berdasarkan pengamatan Kabayan News, kejatuhan masif tersebut menghapuskan nilai triliunan dolar Amerika Serikat dalam waktu singkat dan memicu ketakutan mendalam akan terulangnya Depresi Besar.
Sebelum tragedi tersebut terjadi, pasar saham dunia menikmati tren kenaikan signifikan selama lima tahun berturut-turut. Mengutip laporan sejarah ekonomi, indeks Dow Jones Industrial Average meroket tajam dari level 776 pada Agustus 1982 hingga mencapai puncaknya di angka 2.722 pada Agustus 1987, sebelum akhirnya tekanan jual yang masif menghancurkan valuasi pasar.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeFaktor pemicu kejatuhan bermula dari kekhawatiran bahwa saham mengalami overvalued, defisit anggaran Amerika Serikat, serta ketidakpastian kebijakan moneter internasional. Sebagaimana dilaporkan analis pasar, penggunaan model komputer untuk lindung nilai portofolio turut mempercepat aksi jual agresif sebelum bel pembukaan bursa berbunyi.
Puncak kepanikan terjadi ketika Dow Jones Industrial Average anjlok hingga 508 poin atau sekitar 22,6 persen dalam satu hari perdagangan. Berdasarkan catatan resmi bursa, volume transaksi melampaui kapasitas sistem komunikasi saat itu, menyebabkan penundaan perdagangan dan kebingungan luar biasa di lantai bursa.
Ancaman terbesar setelah kejatuhan hari Senin bukanlah penurunan harga saham itu sendiri, melainkan krisis likuiditas keesokan harinya yang mengancam solvabilitas perusahaan sekuritas. Sebagaimana dilaporkan para pakar ekonomi, lonjakan drastis panggilan margin membuat bank ragu memperluas kredit di tengah pasar yang kacau.
Respons kebijakan moneter yang cepat dari bank sentral berhasil meredam dampak buruk lanjutan terhadap perekonomian riil. Mengutip langkah tegas saat itu, Ketua Federal Reserve Alan Greenspan segera menyatakan kesiapan penuh bertindak sebagai pemberi pinjaman terakhir demi menjaga stabilitas sistem keuangan.