Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mengejutkan melontarkan wacana kontroversial dalam pidatonya di Garden City, New York, dengan menyebut dirinya akan segera mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai teritori Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak dan gas global menyusul konflik militer dengan Iran, di mana ia meminta warga Amerika Serikat untuk menerima sedikit kenaikan harga bensin demi mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
"Apa yang kami lakukan adalah layanan besar bagi dunia, tidak hanya untuk diri kami sendiri... dan kami benar-benar melakukan pekerjaan yang hebat," ujar Trump dalam pidatonya menegaskan bahwa dirinya tidak akan pernah meminta maaf atas serangan terhadap Iran.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePengamatan Kabayan News menunjukkan bahwa sekitar dua puluh persen dari total pengiriman minyak dan gas alam cair global melewati jalur strategis tersebut, sehingga potensi gangguan jangka panjang langsung memicu lonjakan harga minyak mentah Brent mendekati sembilan puluh dolar AS per barel.
"Setelah kami selesai mengalahkan Iran... sebentar lagi saya akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," ucap Trump menambahkan eskalasi retorika terkait jalur perairan vital tersebut.
Menanggapi pernyataan tersebut, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi memberikan reaksi keras melalui platform media sosial X dengan menegaskan bahwa selat tersebut tidak dapat direbut melalui cuitan, kapal induk, maupun pidato kampanye politik.