Bencana banjir bandang yang melanda wilayah timur laut India, tepatnya di negara bagian Assam, menyisakan duka mendalam dengan korban jiwa mencapai 103 orang. Berdasarkan laporan media internasional, sebuah studi terbaru dari lembaga riset internasional mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa bencana tersebut ternyata bukan diperparah oleh krisis iklim global, melainkan akibat kesalahan manusia yang masif.
Mengutip laporan media, gelombang banjir yang mulai melahirkan pengungsian besar-besaran sejak akhir Juni lalu telah memaksa ratusan ribu warga kehilangan tempat tinggal dan merendam puluhan ribu hektare lahan pertanian. Assam State Disaster Management Authority mencatat kerugian material serta hilangnya puluhan ribu ternak peliharaan memberikan pukulan telak bagi sektor mata pencaharian warga setempat yang sangat bergantung pada sektor peternakan.
Sebagaimana diwartakan oleh World Weather Attribution, intensitas curah hujan yang memicu banjir tersebut sebenarnya tergolong normal berdasarkan standar siklus musim muson di wilayah regional. Tim peneliti internasional menemukan bahwa curah hujan dengan skala tersebut lazim terjadi setiap satu hingga dua tahun sekali, sehingga faktor curah hujan ekstrem akibat pemanasan global bukan pemicu utamanya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePeneliti studi dari Red Cross Red Crescent Climate Centre, Sneha Ganguly, menjelaskan bahwa kerentanan wilayah tersebut justru bersumber dari kerusakan lingkungan yang tidak terkontrol. "Unplanned urbanisation, deforestation, poor drainage, inadequate structural flood management measures, and other anthropogenic changes now outweigh natural rainfall variability in explaining flood frequency," ujar Sneha Ganguly sebagaimana dikutip dari laporan media.
Senada dengan hal tersebut, Profesor Sains Iklim dari Imperial College London, Friederike Otto, menegaskan bahwa tidak setiap bencana alam yang terjadi otomatis disebabkan oleh perubahan iklim. Menurutnya, bencana banjir bandang di Assam jauh lebih didorong oleh eksposur manusia yang ekstrem, degradasi lingkungan yang parah, serta keterbatasan infrastruktur penunjang tata air.
Berdasarkan laporan media, wilayah Assam secara geografis terletak di dataran banjir Sungai Brahmaputra yang merupakan salah satu sungai terbesar di Asia. Penumpukan sedimen atau silt secara terus-menerus di sepanjang aliran sungai terbukti mempercepat pendangkalan dasar sungai, sementara investasi infrastruktur tanggul beton yang kaku justru memperparah aliran drainase alami dan memicu risiko bencana yang lebih besar.