Harga minyak dunia melonjak naik ke posisi tertinggi dalam sepekan menyusul ketidakpastian negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Berdasarkan pengamatan Kabayan News, lonjakan ini mencerminkan tingginya sensitivitas pasar terhadap jalur distribusi vital di kawasan Timur Tengah yang kini berada dalam situasi krisis.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent menguat 1,19 dolar AS atau 1,4 persen ke level 88,91 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate Amerika Serikat naik 1,07 dolar AS atau 1,3 persen menjadi 83,20 dolar AS per barel. Dari analisis Kabayan News, angka tersebut menandai penutupan tertinggi kedua berturut-turut bagi kedua patokan utama sejak akhir Juli lalu akibat memudarnya harapan damai.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang baru, Mohsen Rezaei, menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup selama Amerika Serikat tidak mengubah perilakunya dan menerima syarat penghentian perang. Pengamat Kabayan News mencatat bahwa sebelum konflik meletus pada 28 Februari lalu, jalur tersebut menyumbang sekitar 20 persen dari total pasokan minyak dunia dengan rata-rata 125 hingga 140 kapal melintas setiap harinya.
Data pelayaran menunjukkan bahwa aktivitas lintas kapal di Selat Hormuz merosot drastis menjadi hanya enam kapal pada hari Senin, jauh merosot dari rata-rata sepuluh hari sebelumnya. Situasi geopolitik semakin rumit tatkala kelompok Houthi Yaman menyerang kapal Arab Saudi di Bab el-Mandeb, sementara fasilitas energi di Libya dan Rusia turut menghadapi serangan yang menggerus kapasitas produksi global secara masif.