Harga minyak dunia memperpanjang penguatan pada perdagangan hari ini setelah sejumlah kapal tanker milik China memutuskan untuk memutar balik arah di Selat Hormuz. Pergerakan pasar energi tersebut merespons dinamika geopolitik global yang kian memanas di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan laporan pasar, kontrak berjangka minyak mentah Desember sebelumnya sempat mengalami tekanan akibat katalis makroekonomi dan arus mata uang utama yang mempengaruhi aset berisiko.
Namun, eskalasi konflik di kawasan Teluk kembali menjadi penggerak utama pasar setelah Uni Emirat Arab memutus komunikasi serta jalur finansial dengan pihak Iran.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDi sisi lain, Gedung Putih menyatakan bahwa Amerika Serikat terus menerapkan tekanan ekonomi yang ketat terhadap Iran di tengah berbagai ketidakpastian pasokan energi global.
Dinamika Kebijakan Moneter dan Pasar Komoditas Global
Pergerakan harga komoditas minyak juga dipengaruhi oleh kebijakan Departemen Keuangan Amerika Serikat yang mempercepat pembelian kembali obligasi pemerintah guna menggeser pinjaman jangka panjang.
Kebijakan tersebut memicu pergerakan tajam pada tingkat imbal hasil obligasi global, sementara imbal hasil obligasi 30 tahun Jepang sempat mencetak level tertinggi dalam 30 tahun terakhir.
Selain faktor suku bunga, para pelaku pasar tetap mencermati perkembangan negosiasi perdagangan antara Amerika Serikat dan Kanada yang menunjukkan progres positif terkait potensi penurunan tarif aluminium.
Meskipun berbagai sentimen makroekonomi turut membayangi, para analis memperingatkan bahwa risiko gangguan pasokan dari kawasan Teluk masih menjadi penentu utama arah pergerakan harga minyak ke depan.