Ribuan pelaut terjebak di kawasan Teluk dan Selat Hormuz akibat konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran sejak bulan Februari lalu. Berdasarkan laporan awak media, situasi mencekam ini memicu kekhawatiran mendalam karena kapal-kapal komersial kerap menjadi sasaran serangan proyektil tanpa kepastian waktu evakuasi.
Berdasarkan keterangan Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional (IMO) Arsenio Dominguez, para pelaut tersebut merupakan tenaga profesional nonkombatan yang tidak siap menghadapi ancaman rudal maupun drone. Suasana di atas kapal digambarkan mirip berada di dalam penjara karena ketidakpastian geopolitik yang merusak kondisi mental para awak.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerdasarkan analisis awak media Kabayan News, runtuhnya kesepakatan damai antara Washington dan Teheran membuat ribuan pelaut kehilangan kesempatan keluar dari wilayah konflik. Sebanyak ribuan pelaut sebagian besar berasal dari India dan Filipina kini tertahan bersama ratusan kapal tanker minyak dan gas.
Pengamatan redaksi Kabayan News menunjukkan bahwa upaya mediasi terus dilakukan oleh Oman guna membuka jalur pelayaran yang diblokade secara de facto oleh Iran. Namun perundingan tersebut menemui jalan buntu karena usulan kendali lalu lintas maritim bertentangan dengan prinsip kebebasan navigasi internasional.
Data publikasi maritim mencatat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz merosot drastis hingga sepuluh persen dari kapasitas normal sebelum perang meletus. Situasi berbahaya ini memicu ancaman krisis pasokan global apabila para pelaut enggan kembali melaut di tengah eskalasi konflik berkepanjangan.