Pasar energi global dikejutkan oleh lonjakan harga minyak mentah setelah pemerintah Amerika Serikat mengumumkan langkah-langkah ofensif baru dalam bidang ekonomi yang menyasar Iran. Kebijakan agresif ini langsung memicu kekhawatiran serius di kalangan investor terkait potensi gangguan pasokan dari kawasan Teluk yang sangat vital.
Sebagaimana diwartakan oleh media Infobae, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melancarkan apa yang disebut sebagai perang ekonomi untuk mengisolasi Teheran dari sistem keuangan internasional. Dalam pidatonya, ia mendesak para mitra dagang global agar segera mematuhi pembatasan tersebut guna menekan rezim Iran.
Dampak dari pengumuman tersebut langsung terasa di lantai bursa komoditas internasional pada perdagangan hari Kamis. Mengutip laporan media, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober mencatatkan kenaikan sebesar 2,36 persen dan ditutup pada level 93,78 dolar Amerika Serikat per barel.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI untuk pengiriman September turut terkerek naik sebesar 2,33 persen hingga menyentuh angka 87,83 dolar Amerika Serikat per barel. Tren positif ini melanjutkan performa bulanan yang sebelumnya telah mencatatkan penguatan signifikan.
Analis pasar keuangan dari Global Risk Management, Arne Lohmann Rasmussen, menilai bahwa tekanan ekonomi yang masif ini memang memberikan beban berat bagi perekonomian Iran. Namun, ia juga mengingatkan bahwa Teheran telah memiliki pengalaman panjang dalam mencari celah untuk bertahan di tengah sanksi internasional.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik yang terus berlanjut di sekitar jalur pelayaran strategis Selat Hormuz masih menjadi faktor utama penjaga risiko pasar. Para pelaku industri kini terus memantau respons lanjutan dari berbagai negara importir utama terhadap kebijakan baru Washington tersebut.