Pembangkit listrik tenaga gas mendominasi gelombang pertama proses peninjauan koneksi baru yang dirombak oleh operator jaringan terbesar di Amerika Serikat, PJM Interconnection. Berdasarkan laporan, langkah strategis tersebut diambil seiring meningkatnya permintaan listrik secara drastis akibat pertumbuhan data center dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam putaran perdana sistem baru PJM, sebanyak 715 usulan proyek dengan total kapasitas 201,5 gigawatt mulai melaju ke tahap studi lanjutan. Dari jumlah tersebut, gas alam mencakup kapasitas sebesar 99,8 gigawatt yang tersebar di 147 proyek, mengungguli jenis sumber energi lainnya di wilayah operasional tersebut.
Pihak PJM mencatat baterai penyimpanan berada di urutan berikutnya dengan kapasitas 60 gigawatt, disusul nuklir sebesar 17,3 gigawatt, surya 11,8 gigawatt, hibrida surya-penyimpanan 7,5 gigawatt, serta tenaga angin 3,9 gigawatt. Komposisi ini bergeser secara signifikan dibandingkan antrean masa lalu yang didominasi oleh usulan proyek energi bersih hingga mencapai lebih dari 90 persen.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePJM memproyeksikan kebutuhan daya listrik bakal meroket hingga 70 gigawatt menjelang tahun 2038 dengan sektor data center sebagai pendorong utama peningkatan tersebut. Guna menyaring spekulasi dan mempercepat proses, pengembang kini diwajibkan memenuhi ketentuan pembayaran di muka serta membuktikan kontrol atas lokasi pembangunan.
Aturan Baru PJM dan Tantangan Masa Depan Energi
Jason Connell selaku Vice President of Planning di PJM menyatakan aturan pembaruan tersebut dirancang khusus untuk mendorong realisasi proyek yang benar-benar siap dibangun. Sistem pertama siap dan dilayani ini diharapkan mampu menyingkirkan proposal lemah sebelum menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam proses studi kelayakan.
Jeffrey Shields selaku juru bicara PJM menjelaskan bahwa proses baru ini mencakup persyaratan yang jauh lebih ketat disertai setoran kesiapan bermakna yang berisiko hangus jika proyek mangkrak. Pendekatan kelompok studi ini bertujuan membantu pengembang mengetahui biaya peningkatan jaringan lebih awal menuju tahap konstruksi.
Kendati demikian, Abe Silverman selaku peneliti dari Ralph O'Connor Sustainable Energy Institute Johns Hopkins University menilai dominasi gas mencerminkan fenomena perebutan cepat sumber daya demi melayani kebutuhan data center. Silverman mengingatkan dimulainya proses antrean tidak menjamin seluruh proyek tersebut akan langsung beroperasi dalam beberapa tahun ke depan.
Jon Gordon selaku direktur di Advanced Energy United menyebut sistem antrean lama sebelumnya sempat menghancurkan banyak rencana energi terbarukan akibat penundaan bertahun-tahun di tengah pandemi dan inflasi tinggi. Di sisi lain, proyek pembangkit gas juga menghadapi lonjakan biaya pembangunan yang jauh lebih mahal dibandingkan alternatif energi bersih.