Dunia filsafat sains modern tentu tidak bisa dilepaskan dari sosok pemikir besar asal Austria-Britania, Sir Karl Raimund Popper. Lahir di Wina pada 28 Juli 1902, ia tumbuh dalam keluarga intelektual berkecukupan yang memberikan fondasi kuat terhadap kecintaannya pada dunia literasi dan ilmu pengetahuan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Perjalanan hidup Popper diwarnai oleh dinamika politik yang bergejolak pada awal abad ke-20. Sempat tertarik pada Marxisme dan bergabung dengan gerakan sosial pada masa mudanya, ia kemudian mengambil jarak dari ideologi tersebut setelah menyaksikan tragedi berdarah yang melibatkan kaum ekstremis.
Kontribusi terbesar Popper bagi dunia sains adalah gagasannya mengenai kriteria falsifiabilitas atau pemalsuan empiris. Ia berpendapat bahwa sebuah teori dalam ilmu empiris tidak pernah bisa sepenuhnya dibuktikan benar, melainkan harus dapat diuji dan dibuktikan salah melalui eksperimen yang ketat.
Selain di bidang sains, pemikiran politik Popper juga sangat tajam dalam membela demokrasi liberal dan masyarakat terbuka. Melalui karya monumental seperti The Open Society and Its Enemies, ia secara tegas mengecam segala bentuk totaliterisme, fasisme, dan historisisme.
Hingga akhir hayatnya pada 17 September 1994, Popper terus aktif menulis dan menyumbangkan gagasan-gagasan kritisnya yang membentuk iklim intelektual modern. Warisan pemikirannya tetap relevan dan menjadi rujukan utama dalam memahami batasan antara sains sejati dan pseudosains.