Dunia filsafat modern tidak akan pernah sama tanpa kehadiran seorang pemikir besar bernama Plato. Lahir di Athena kuno sekitar tahun 428 hingga 347 Sebelum Masehi, ia diakui secara luas sebagai figur sentral yang meletakkan batu pertama bagi seluruh tradisi filosofi di dunia Barat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Lahir dari keluarga aristokrat yang berpengaruh, Plato muda awalnya menjalani kehidupan tradisional Athena dan memiliki minat yang besar pada bidang sastra serta penulisan puisi. Namun, jalan hidupnya berubah drastis setelah ia bertemu dengan Socrates, yang kemudian menjadi guru sekaligus sumber inspirasi terbesar dalam perjalanan intelektualnya.
Sebagai inovator dalam bentuk dialog sastra dan dialektika, Plato tidak pernah tampil menggunakan suaranya sendiri dalam karya-karyanya, melainkan selalu menghadirkan sosok Socrates. Kontribusi paling monumentalnya yang dikenal hingga kini adalah teori bentuk atau Theory of Forms, yang berusaha membedakan antara dunia material yang fana dengan dunia ide yang abadi.
Selepas kematian Socrates, Plato memutuskan untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan tinggi bernama Akademi di Athena pada sekitar tahun 383 Sebelum Masehi. Di tempat inilah ia menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengajar, berdiskusi, serta melahirkan para pemikir besar masa depan termasuk Aristoteles.
Pengaruh pemikiran Plato melampaui batas zaman dan peradaban, merambah ke dalam tradisi filsafat Kristen, Yahudi, hingga Islam melalui aliran Neoplatonisme. Hingga ribuan tahun kemudian, seluruh karya tulis lengkapnya masih terus dipelajari dan dijadikan rujukan utama dalam memahami esensi ilmu pengetahuan serta etika.
Plato menutup usia pada tahun 348 atau 347 Sebelum Masehi dan dimakamkan di taman miliknya sendiri di Athena. Warisan pemikirannya terus hidup, menginspirasi para ilmuwan, seniman, dan matematikawan lintas generasi hingga era modern saat ini.