Profil aksara Phagspa mencakup sejarah sebagai sistem tulisan abugida yang dirancang khusus oleh tokoh Tibet Lama Drogön Chögyal Phagpa untuk Kaisar Kublai Khan demi menyatukan keragaman bahasa di Dinasti Yuan. Berdasarkan catatan sejarah, inovasi penulisan ini diciptakan pada sekitar tahun 1269 agar dapat mengakomodasi fonologi berbagai bahasa yang berbeda di bawah kekuasaan kekaisaran.
Latar belakang penciptaan aksara ini bermula dari ketidakpraktisan sistem tulisan Mongol berbasis Uyghur yang dinilai kurang cocok digunakan oleh penutur bahasa Mongol Tengah maupun bahasa Tionghoa. Menanggapi kendala tersebut, Phagpa mengembangkan basis aksara Tibet yang berakar dari tradisi India agar mampu merangkum standar pelafalan Mandarin Zhongyuan secara seragam.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerdasarkan pengamatan tim redaksi, meskipun dirancang secara ambisius untuk menyatukan wilayah kekaisaran yang luas, penggunaan sistem tulis ini secara luas hanya bertahan sekitar satu abad. Dokumen peninggalannya kini menjadi sumber penting bagi para ahli bahasa untuk meneliti evolusi fonetik bahasa Tionghoa, Mongol, dan Tibet pada masa lampau.
Transformasi bentuk huruf ini ditulis secara vertikal dari atas ke bawah mengikuti tradisi aksara Mongol sebelumnya dengan ciri khas bentuk kotak yang unik. Seiring runtuhnya Dinasti Yuan pada tahun 1368, popularitasnya mulai meredup meski sempat dimanfaatkan kembali di Tibet sebagai aksara segel, mata uang, hingga penghias pintu kuil.
Sebagaimana dilaporkan dalam catatan sejarah filologis, total 38 huruf dasar yang diciptakan dalam sistem ini diabadikan melalui karya rujukan Menggu Ziyun. Keberadaannya kini dikenang sebagai salah satu eksperimen linguistik paling monumental dalam sejarah peradaban Asia Timur.