Di tengah upaya Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB untuk kembali memediasi konflik berkepanjangan di pulau yang terbelah, Uni Eropa justru menunjukkan ambisi besar untuk ikut campur tangan. Berdasarkan laporan media internasional, blok benua biru tersebut berupaya mengambil peran strategis dalam proses negosiasi, kendati dinilai tidak memenuhi kriteria dasar sebagai fasilitator yang objektif.
Sebagaimana diwartakan, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dijadwalkan melakukan kunjungan penting ke pulau tersebut untuk menemui perwakilan dari komunitas Siprus Yunani dan Siprus Turki. Di sisi lain, Komisi Eropa justru melangkah lebih jauh dengan menunjuk utusan khusus baru untuk urusan Siprus, sebuah manuver yang dilakukan tanpa melibatkan pandangan dari pihak Siprus Turki.
Polemik ini berakar dari sejarah panjang sengketa wilayah sejak dekade 1960-an dan intervensi militer Turki pada tahun 1974 demi melindungi warga Siprus Turki dari kekerasan etnis. Situasi tersebut berujung pada deklarasi Republik Turki Siprus Utara atau TRNC pada tahun 1983, yang hingga kini eksistensinya hanya diakui oleh Ankara.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMengutip laporan media, ketiadaan netralitas menjadi batu sandungan utama bagi Uni Eropa untuk diterima sebagai mediator yang adil. Blok tersebut dinilai telah kehilangan kepercayaan dari komunitas Siprus Turki setelah memasukkan administrasi Siprus Yunani sebagai anggota penuh pada tahun 2004, sembari melanggar janji-janji untuk mengakhiri isolasi ekonomi terhadap warga utara.
Kritik keras pun dilayangkan oleh Kementerian Luar Negeri Siprus Turki menyusul penunjukan perwakilan khusus baru oleh Uni Eropa. Pihaknya menegaskan bahwa penunjukan tersebut tidak memiliki legitimasi dan menyebut langkah Uni Eropa sebagai tindakan absurd, mengingat blok tersebut secara konsisten mengabaikan hak-hak berdaulat serta aspirasi rakyat Siprus Turki.