Kabayan News Kabayan News
/home / internasional / Sistem Social Security Amerika...
INTERNASIONAL

Sistem Social Security Amerika Serikat, Sejarah dan Ancaman Defisit Dana

By Dewi Lestari • 2 min read • 11 Agustus 2026
Gedung Social Security Administration di Amerika Serikat

Gedung Social Security Administration di Amerika Serikat

Proses regulasi dan pendanaan program Social Security Amerika Serikat di bawah naungan Social Security Administration terus menjadi sorotan di tengah proyeksi penipisan cadangan dana trust fund. Sebagaimana dilaporkan, sistem federal Old Age, Survivors, and Disability Insurance ini telah lama menjadi pilar utama dalam memberikan perlindungan finansial bagi puluhan juta warga.

Berdasarkan analisis Kabayan News, program jaminan sosial tersebut pertama kali dicetuskan pada era pemerintahan Presiden Franklin D. Roosevelt melalui Undang-Undang Social Security Act tahun 1935. Kebijakan ini lahir sebagai respons atas krisis Great Depression guna melindungi masyarakat dari risiko kemiskinan di masa tua, disabilitas, serta beban hidup lainnya.

Dalam perjalanannya, sistem pembiayaan Social Security bersumber dari pajak penggajian melalui Federal Insurance Contributions Act atau Self Employed Contributions Act. Pengamat ekonomi mencatat bahwa batas maksimal pendapatan kena pajak pada tahun 2026 mencapai angka 184.500 dolar Amerika Serikat, sementara cakupan kepesertaan telah mencakup sebagian besar tenaga kerja di seluruh negeri.

Kendati demikian, tantangan struktural membayangi keberlanjutan program jangka panjang. Pensiunnya generasi baby boom secara masif memicu penurunan saldo cadangan secara signifikan. Dari pengamatan Kabayan News, tanpa adanya reformasi legislatif yang memadai, cadangan dana pensiun diproyeksikan menghadapi tekanan berat dalam beberapa dekade mendatang.

Topics
social security amerika serikat keuangan ekonomi pensiun kebijakan publik
Koresponden Internasional & Analis Global

Dewi membawa perspektif global untuk pembaca Kabayan News. Dengan pengalaman tinggal di Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura, ia memahami dinamika geopolitik dan ekonomi dunia. Kini berbasis di Jakarta, ia meliput bagaimana isu global berdampak pada Indonesia, dengan fokus pada hubungan internasional, perdagangan global, dan isu-isu kemanusiaan.