Presiden Donald Trump memberikan ultimatum keras kepada Iran setelah tenggat waktu 60 hari untuk mencapai kesepakatan akhir berakhir pada Senin, 17 Agustus 2026. Trump secara tegas meminta pemimpin Iran "mengibarkan bendera putih" tanda menyerah di tengah persiapan pemerintahan Amerika Serikat menerapkan sanksi ekonomi dengan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.
"Mereka harus mengibarkan bendera putih menyerah," ujar Trump dalam wawancara telepon dengan koresponden Fox News, Trey Yingst. Trump menegaskan dirinya tidak terburu-buru mengejar kesepakatan baru, bahkan mengonfirmasi adanya jalur komunikasi langsung dengan pejabat Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Menteri Keuangan Scott Bessent sebelumnya menyatakan AS tengah menyusun langkah isolasi ekonomi total bagi Iran. Data Treasury mencatat pengiriman minyak Iran anjlok drastis dari 1,8 juta barel per hari sebelum perang menjadi kurang dari 500.000 barel per hari dalam kurun waktu sebulan terakhir, sebuah penurunan yang memukul sektor pendapatan negara tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSituasi ekonomi Iran kian terhimpit oleh inflasi yang melonjak tajam. Berdasarkan laporan Statistical Centre Iran, harga konsumen pada Juli 2026 tercatat 87,9 persen lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, sementara harga kebutuhan pangan meroket hingga 128 persen, memicu ketidakpastian stabilitas domestik yang sebelumnya pernah meledak pada aksi unjuk rasa 2019.
Ekonomi Iran Kritis di Bawah Tekanan Maksimal
Para analis memperingatkan bahwa meski tekanan ekonomi brutal, tantangan utama AS adalah memastikan dampak sanksi tersebut benar-benar menyentuh jaringan elit IRGC yang selama ini kebal terhadap gejolak ekonomi. Kegagalan mencapai kesepakatan ini kini mengalihkan fokus strategi Trump dari sekadar tekanan militer menuju pemerasan finansial melalui pengetatan sanksi lebih luas.
Kondisi ekonomi Iran saat ini digambarkan oleh mantan analis sanksi Treasury, Miad Maleki, sebagai kampanye tekanan maksimal dalam dosis tinggi. Maleki menyoroti anjloknya nilai tukar rial serta keterbatasan kemampuan Tehran dalam mengekspor minyak mentah akibat blokade maritim yang diterapkan Amerika Serikat.
Proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi Iran akan mengalami kontraksi sebesar 5,4 persen akibat isolasi finansial ini. Presiden Masoud Pezeshkian bahkan telah mengakui bahwa pemerintahannya kini kesulitan mengumpulkan pendapatan pajak dari sektor bisnis yang terus meredup di tengah sanksi internasional.
Pemerintahan Trump kini mengincar celah baru untuk menutup jalur penyelundupan pendapatan Iran. Target pengawasan berikutnya meliputi kilang minyak China, pedagang perantara di Hong Kong, hingga penggunaan jaringan mata uang kripto yang diduga digunakan sebagai sarana untuk menghindari sanksi ekonomi global.
Meskipun tekanan finansial meningkat, pakar menilai ada keterbatasan dalam strategi tersebut. Selama beban sanksi lebih banyak dirasakan oleh warga sipil dibandingkan jaringan elit IRGC maupun yayasan milik supremasi Iran, maka konsesi politik dari Tehran diperkirakan akan sangat sulit dicapai dalam waktu dekat.