Ruben Rocha Moya, politisi asal Meksiko, resmi kembali menduduki jabatannya sebagai Gubernur Sinaloa, wilayah yang terletak di barat laut Meksiko. Keputusan ini diambil setelah ia sempat mengambil cuti sementara selama 112 hari untuk menjalani proses investigasi terkait tuduhan serius dari Amerika Serikat yang mengaitkannya dengan jaringan perdagangan narkoba.
Dalam sebuah pernyataan yang diunggah melalui media sosial X, Rocha Moya menegaskan bahwa selama masa cutinya, ia telah kooperatif dengan pihak berwenang Meksiko. Ia menepis seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya. "Setelah 112 hari investigasi, seperti yang telah diinformasikan oleh Kejaksaan Agung (FGR), tidak ada elemen bukti minimal yang mendukung partisipasi kami dalam perilaku kriminal apa pun," tulis Rocha Moya.
Sebagaimana dilaporkan oleh CNN, tuduhan terhadap Rocha Moya bermula pada 29 April lalu, ketika Departemen Kehakiman AS merilis daftar dakwaan terhadap sepuluh orang, termasuk pejabat Sinaloa. Mereka dituduh memiliki hubungan dengan faksi "Los Chapitos" dari Kartel Sinaloa. Namun, pihak pemerintah Meksiko menilai bahwa AS tidak menyertakan bukti yang cukup untuk membenarkan tindakan hukum atau ekstradisi terhadap para tertuduh.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePemerintah Meksiko sendiri memberikan respons terukur terkait kembalinya sang gubernur. Dalam sebuah pernyataan resmi, pemerintah menyatakan bahwa kembalinya Rocha Moya ke tampuk kekuasaan merupakan keputusan yang bersifat pribadi. Sementara itu, pihak Kejaksaan Agung (FGR) Meksiko menegaskan bahwa mereka tetap menjalankan kewenangan investigasi sesuai dengan perkembangan bukti yang ada.
Kembalinya Rocha Moya juga mendapat sorotan dari partai pengusungnya, Morena. Partai tersebut memberikan pernyataan bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan sebelumnya mengenai keputusan tersebut dan memilih untuk menjaga jarak. Rocha Moya tetap bersikeras bahwa tuduhan dari AS merupakan upaya bermotif politik yang bertujuan merusak gerakan kiri di Meksiko.
Kasus ini turut menarik perhatian Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum. Meski sempat menyatakan tidak akan melindungi siapa pun, Sheinbaum menekankan pentingnya bukti konkret dalam setiap proses hukum. Ia juga sempat melontarkan kekhawatiran bahwa penyelidikan ini mencerminkan sikap campur tangan Amerika Serikat terhadap urusan domestik Meksiko, terutama di tengah ketegangan kebijakan keamanan lintas negara.