Di tengah megahnya modernisasi kota Istanbul, tersimpan berbagai peninggalan sejarah masa lampau yang sering kali luput dari perhatian warga. Sebagaimana diwartakan oleh Daily Sabah, salah satu artefak unik yang masih bertahan adalah binek taslari atau batu penopang naik kuda yang merekam jejak budaya transportasi era Kesultanan Ottoman.
Pada masa kejayaannya, batu-batu kecil ini diletakkan di berbagai titik strategis yang sering dilalui oleh para sultan, anggota keluarga istana, serta pejabat tinggi negara. Berdasarkan laporan media, posisi batu tersebut biasanya disesuaikan dengan tinggi sanggurdi kuda agar memudahkan para penunggangnya untuk naik maupun turun dari hewan peliharaan mereka.
Kubilay Arpacı, seorang asisten peneliti di Departemen Sejarah Seni Universitas Istanbul Medeniyet, menjelaskan bahwa struktur tersebut memiliki fungsi arsitektural yang sangat penting pada masanya. Menurutnya, keberadaan batu penopang ini tidak hanya sekadar fasilitas mobilitas, tetapi juga merefleksikan tingginya nilai kuda dalam tatanan sosial masyarakat Ottoman.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeArpacı mengungkapkan bahwa kuda pada masa itu dipandang lebih dari sekadar alat transportasi semata. Hewan perkasa tersebut turut menjadi simbol kekuasaan, prestise, serta status sosial yang tinggi bagi para pejabat dan kalangan bangsawan, bahkan tercatat ada kisah di mana Sultan Osman II mendirikan nisan khusus untuk kudanya yang telah mati.
Lebih lanjut, bentuk dari batu-binek taslari ini ternyata sangat beragam tergantung pada lokasi dan fungsinya. Sebagaimana dikutip dari penjelasan sang ahli, ada yang berbentuk struktur bertangga untuk memudahkan akses, sementara sebagian lainnya berupa balok batu tunggal atau potongan kolom yang ditinggikan dari permukaan tanah.
Seiring dengan berjalannya waktu dan masuknya era modernisasi, fungsi praktis dari batu-binek taslari ini perlahan mulai memudar. Kehadiran sarana transportasi massal seperti kereta api dan trem membuat masyarakat tidak lagi bergantung pada kuda, sehingga banyak dari struktur bersejarah ini yang akhirnya hilang akibat pembangunan kota maupun kerusakan zaman.