Gedung Harmoni atau dikenal sebagai Societeit de Harmonie berdiri megah di persimpangan Jalan Veteran dan Jalan Majapahit, Jakarta Pusat, sebagai pusat aktivitas sosial kaum elite Belanda sejak era kolonial. Bangunan bersejarah ini awalnya diprakarsai oleh Gubernur Jenderal Reinier de Klerk pada tahun 1776, sebelum akhirnya proses pembangunan fisik dimulai pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels tahun 1810.
Sebelum berfungsi sebagai tempat pesta dan perkumpulan kaum elite, lokasi tersebut merupakan benteng pertahanan bernama Rijswijk yang berfungsi mengamankan jalur selatan Batavia. Namun, benteng pertahanan tersebut mengalami kerusakan parah akibat peristiwa kerusuhan Tionghoa 1740 dan dibiarkan terbengkalai selama bertahun-tahun hingga kawasan sekitar mulai dibenahi kembali.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeGubernur Jenderal Daendels kemudian menugaskan Mayor Schultze untuk merancang gedung perkumpulan baru di kawasan Rijswijk guna memindahkan pusat keramaian dari kawasan Jalan Pintu Besar Selatan yang dinilai semakin kotor. Pembangunan gedung ikonis tersebut dilanjutkan pada masa pendudukan Inggris di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Raffles dan resmi dibuka lewat perayaan megah.
Perjalanan panjang bangunan bersejarah ini harus berakhir tragis pada bulan Maret 1985 ketika pemerintah merobohkan seluruh struktur Gedung Harmoni. Pembongkaran bangunan bernilai arsitektur tinggi tersebut dilakukan demi kepentingan proyek pelebaran jalan raya serta penyediaan lahan parkir bagi kantor Sekretariat Negara.
Jejak Perjalanan dan Akhir Tragis Ikon Batavia
Peresmian Gedung Harmoni tercatat berlangsung meriah pada bulan Agustus 1868 bertepatan dengan perayaan ulang tahun Ratu Charlotte dari Inggris. Tempat ini menjadi saksi bisu perkembangan sosial masyarakat kolonial di Batavia selama lebih dari satu abad lamanya.
Keberadaan bangunan ini tidak hanya berfungsi sebagai klub sosial tempat dansa dan pertemuan para petinggi kolonial, tetapi juga menjadi penanda penting tata kota Batavia pada masa lampau. Arsitektur bangunan bergaya Eropa klasik menghiasi sudut strategis ibu kota sebelum arus modernisasi mengubah wajah kawasan tersebut.
Keputusan penghancuran bangunan bersejarah pada tahun 1985 menuai berbagai catatan sejarah karena menghilangkan salah satu bukti fisik perkembangan arsitektur kolonial di pusat kota Jakarta. Alasan kebutuhan infrastruktur jalan raya dan fasilitas parkir menjadi faktor utama penentu lenyapnya bangunan tersebut.
Kini, kawasan Harmoni hanya tinggal nama dan kenangan dalam catatan sejarah perkotaan Jakarta. Ruas jalan yang dulunya dihiasi kemegahan bangunan Societeit de Harmonie bertransformasi menjadi salah satu titik nadi lalu lintas paling sibuk di jantung ibu kota.