Jawa Barat ternyata pernah menyimpan wilayah lahan gambut basah terbesar di Tanah Jawa yang mencakup area seluas sekitar 2.000 hektare. Kawasan yang kini telah bertransformasi menjadi lahan persawahan subur tersebut terletak di Lakbok, Kabupaten Ciamis, dan dikenal luas lewat sejarah Rawa Lakbok.
Sebelum dibuka menjadi lahan pertanian oleh Bupati Sukapura Raden Adipati Aria Wiratanuningrat sekitar tahun 1924, kawasan sunyi ini diyakini sebagai hunian bagi makhluk halus. Berdasarkan catatan literatur Sunda, makhluk penguasa rawa tersebut dikenal dengan sebutan Onom yang lekat dengan berbagai kisah mistis.
Salah satu kisah perjumpaan dengan Onom dicatat oleh seorang wadana di Ciamis, R. Iskandar Bratanegara. Dalam catatan yang dihimpun R.A. Danadibrata, dikisahkan seorang pria asal Bandung terpikat oleh kecantikan perempuan lokal saat menghadiri Pesta Raja di Ciamis sebelum tahun 1930-an. Namun, secara mengejutkan perempuan tersebut tiba-tiba menghilang dan sang pria mendapati dirinya tengah berdiri seorang diri di tengah area pekuburan yang sepi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePengalaman mistis serupa juga dialami oleh seorang tokoh Muhammadiyah, Muallim Ahmad Syadili, dalam catatan perjalanannya menembus hutan Lakbok menuju Pamarican. Sebagaimana diwartakan dalam literatur setempat, Syadili sempat berpapasan dengan perempuan berpenampilan rapi ala orang kota yang berjalan seorang diri di tengah hutan lebat.
Kejadian janggal pun terjadi ketika Syadili mendapati perempuan misterius tersebut telah berada di seberang sungai mendahului mereka tanpa pakaian yang basah sedikit pun di tengah guyuran hujan deras. Tak lama berselang setelah disapa, perempuan tersebut lenyap seketika di jalur tanpa percabangan, yang membuat sang paman memperingatkan bahwa sosok itu adalah "urang Lakbok".
Selain menyerupai manusia, keberadaan Onom juga sering kali ditandai dengan munculnya suara tabuhan gamelan misterius yang terdengar hingga menjelang subuh. Berdasarkan kepercayaan masyarakat sekitar, orang-orang yang bersikap sembrono atau berniat mencari sumber suara tersebut kerap kali tersesat dan mengalami linglung di tengah kegelapan malam.