Candra Naya berdiri sebagai salah satu bangunan cagar budaya paling ikonik di kawasan Jakarta, Indonesia. Bangunan bersejarah ini dulunya merupakan bekas kediaman keluarga besar Khouw van Tamboen, khususnya Majoor der Chinezen Khouw Kim An yang menjabat sebagai kepala bangsa Tionghoa terakhir di Batavia pada era kolonial.
Berdasarkan catatan sejarah, bangunan megah seluas 2.250 meter persegi ini didirikan sekitar abad ke-19. Kompleks ini dulunya menjadi bagian dari tiga bangunan megah berarsitektur serupa di Jalan Gajah Mada, bersama dengan gedung milik Khouw Tjeng Po dan Khouw Tjeng Kee.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeArsitektur Candra Naya sangat khas dengan nuansa Tionghoa klasik yang kental. Salah satu elemen paling mencolok adalah bentuk atap melengkung dengan ujung terbelah dua atau disebut Yanwei, serta ornamen Ba Gua dan hiasan jamur lingzhi pada pintu masuk utama.
Perjalanan panjang mengiringi eksistensi gedung ini, mulai dari fungsi awalnya sebagai tempat tinggal hingga menjadi pusat kegiatan sosial. Sejak tahun 1946, gedung ini disewa oleh Perhimpunan Sosial Sin Ming Hui yang kemudian bertransformasi menjadi wadah berbagai kegiatan masyarakat.
Jejak Kekuasaan Mayor Tionghoa dan Kiprah Khouw Kim An
Memasuki tahun 1992, kompleks Candra Naya sempat menghadapi ancaman pembongkaran akibat peralihan kepemilikan kepada Modern Group. Berkat ketegasan Gubernur Jakarta kala itu dan penolakan keras para pemerhati sejarah, bangunan utama berhasil diselamatkan dari kepunahan.
Kini, bangunan utama Candra Naya tetap berdiri kokoh di tengah modernisasi kota. Cagar budaya tersebut terintegrasi dengan apik di dalam kompleks hunian dan komersial terpadu Green Central City, lengkap dengan kolam ikan besar di bagian belakangnya.
Khouw Kim An memegang peranan penting dalam sejarah bangunan ini setelah diwariskan kepada dirinya. Ia resmi dilantik sebagai mayor Tionghoa pada tahun 1910 untuk mengurusi berbagai kepentingan masyarakat Tionghoa di bawah pemerintahan Hindia Belanda.
Selain aktif dalam urusan pemerintahan kolonial, Khouw Kim An juga dikenal sebagai seorang pengusaha sukses serta pemegang saham di Bataviaasche Bank. Ia mulai menempati gedung Candra Naya secara khusus pada tahun 1934 setelah sebelumnya tinggal di Bogor.