Kabar duka menyelimuti dunia sepak bola internasional. Franco Baresi, legenda AC Milan dan tim nasional Italia yang dikenal sebagai salah satu bek terbaik sepanjang masa, dikabarkan meninggal dunia pada usia 66 tahun setelah berjuang melawan penyakit yang dideritanya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →AC Milan mengonfirmasi kabar tersebut pada Jumat (31/7/2026) waktu setempat. Klub berjuluk Rossoneri itu memimpin tribut untuk sosok yang menghabiskan seluruh karier profesionalnya di San Siro dan menjadi salah satu figur paling menentukan dalam sejarah klub.
Baresi memang sudah dalam perawatan medis sejak menjalani operasi pengangkatan nodul paru-paru pada Agustus 2025, dilanjutkan dengan rangkaian imunoterapi. Penampilan publik terakhirnya terjadi pada Februari lalu, ketika ia membawa obor Olimpiade masuk ke Stadion San Siro bersama mantan rekan setimnya di timnas sekaligus rival, Giuseppe Bergomi, dalam upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina.
Rossoneri menyampaikan tribut emosional untuk wakil presiden kehormatan mereka, menyebut seluruh klub menangis kehilangan salah satu pelayan terbesar sepanjang masa. Pemilik klub, Gerry Cardinale, juga memuji Baresi karena telah mewujudkan nilai dan identitas AC Milan sepanjang hidupnya.
"Seluruh sejarah AC Milan menangis atas kepergian Franco Baresi," tulis Milan dalam akun X mereka. "Teladan dan integritasnya akan selamanya terukir dalam DNA klub, sama seperti nomor punggung 6-nya yang ikonis. Belasungkawa AC Milan untuk keluarga Franco Baresi di masa sulit ini dirasakan oleh setiap Rossonero, yang merasakan kehilangan ini sebagai kehilangan mereka sendiri."
Paolo Maldini, mantan rekan setim yang juga legenda Milan, menjadi salah satu sosok yang menyampaikan tribut paling menyentuh. Dalam unggahan di Instagram, Maldini menggambarkan Baresi sebagai pemain yang mengajarinya makna sebenarnya mengenakan seragam Milan.
"Kau mengajariku untuk bertarung hingga napas terakhir, dan menunjukkan makna pengabdian pada seragam serta nilai seorang pemimpin sejati. Kau melakukan ini melalui teladan, setiap hari: sedikit kata, tapi tak terhitung tindakan," tulis Maldini. "Kau melindungiku saat aku masih anak-anak, membimbingku sebagai pemuda, dan menginspirasiku sebagai dewasa. Kau adalah pemain terhebat yang pernah kuhormati untuk bermain bersamanya."
Maldini juga menyampaikan pelukan hangat untuk seluruh keluarga Baresi, terutama istri Maura dan putra-putranya, Edoardo serta Giannandrea. "Kami akan merindukanmu, kapten. Namun cahaya bintangmu akan terus menuntun kami selamanya," tutup Maldini.
Baresi tetap dekat dengan Milan setelah pensiun, mengambil peran sebagai pelatih dan duta klub sebelum ditunjuk sebagai wakil presiden kehormatan pada 2020. Selama 20 tahun membela Milan sejak debut tim utama pada 1977, ia menjadi kapten selama 15 musim dan tidak pernah membela klub profesional lain.
Total 719 penampilan di semua kompetisi dengan enam gelar Serie A, tiga Piala Eropa, dua Piala Interkontinental, dan empat Piala Super Italia. Sebagai bentuk pengakuan atas loyalitasnya yang luar biasa, klub secara permanen memensiunkan nomor punggung 6 usai ia pensiun pada 1997.
Di level internasional, Baresi mengoleksi 81 caps untuk Italia dan menjadi bagian skuad yang memenangkan Piala Dunia 1982 di Spanyol. Dua belas tahun kemudian, ia menjadi kapten Azzurri di final Piala Dunia 1994 melawan Brasil, yang dikenang karena ia kembali dari operasi lutut hanya 25 hari sebelumnya untuk bermain 120 menit penuh sebelum Italia kalah adu penalti.
Dikenal luas sebagai libero terbaik di generasinya, Baresi identik dengan ketenangan dan kepemimpinan di atas lapangan. Keputusannya untuk tetap bertahan bersama Milan saat klub terdegradasi menyusul skandal pengaturan skor pada 1980 semakin mengukuhkan statusnya sebagai salah satu figur paling setia dan dihormati dalam sejarah sepak bola.