Ketua Federal Reserve Kevin Warsh memilih untuk tidak mengubah suku bunga acuan dalam pertemuan terbarunya. Kendati demikian, tekanan justru datang dari para investor pasar obligasi yang secara mandiri memperketat kondisi keuangan melalui kenaikan imbal hasil.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 30 tahun dilaporkan kembali merangkak naik hingga menyentuh level tertingginya sejak tahun 2007. Kenaikan tajam di ujung kurva imbal hasil ini secara langsung mendongkrak biaya pinjaman jangka panjang yang harus ditanggung oleh para pelaku bisnis maupun masyarakat.
Warsh sendiri tampak menyambut baik dinamika pasar tersebut dan menilai bahwa investor telah mengambil sebagian porsi pekerjaan bank sentral. Pendekatan ini mengingatkan publik pada era mantan Ketua The Fed Alan Greenspan, di mana bank sentral mulai mengurangi panduan ke depan dan membiarkan pasar merespons kondisi ekonomi secara bebas.
Namun, strategi membiarkan pasar melakukan pengetatan moneter menyimpan risiko tersendiri bagi perekonomian riil. Pakar keuangan Alfonso Peccatiello memperingatkan bahwa membiarkan pasar mengatur pengetatan suku bunga bukanlah proses yang ramah bagi sektor perumahan maupun daya beli masyarakat.
Risiko utama dari strategi ini adalah lambatnya pemulihan ekonomi akibat biaya utang yang terlampau tinggi sebelum akhirnya data-data makroekonomi memaksa pasar melunak. Sektor perumahan di Amerika Serikat bahkan telah merasakan dampak terberat dari tekanan suku bunga jangka panjang tersebut.