Presiden Amerika Serikat Donald Trump harus menelan pil pahit setelah upayanya untuk menurunkan suku bunga di tengah dinamika ekonomi global menemui jalan buntu. Padahal, sebelumnya ia berulang kali mendesak Federal Reserve untuk memangkas suku bunga acuan dengan dalih kebijakan tersebut akan menjadi bahan bakar roket bagi pertumbuhan ekonomi dan keterjangkauan perumahan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Namun kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik dengan janji kampanye yang pernah disuarakan. Sejak konflik di Iran meletus pada akhir Februari, biaya pinjaman di negeri Paman Sam justru semakin melonjak, membuat banyak keluarga kesulitan untuk mencicil KPR maupun pinjaman kendaraan bermotor di tengah tekanan fiskal pemerintah.
Kondisi ini semakin diperparah setelah Ketua Federal Reserve yang baru pilihan Trump, Kevin Warsh, menyatakan dalam konferensi persnya bahwa tingkat inflasi masih berada di level tinggi tanpa memberikan sinyal pasti mengenai arah kebijakan pelonggaran moneter. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun bahkan menyentuh level tertinggi dalam hampir dua dekade terakhir.
Di sisi lain, kubu Gedung Putih tetap bersikukuh menilai bahwa perekonomian nasional masih berada dalam jalur yang positif berkat kuatnya angka investasi dan tingkat pengangguran yang rendah. Juru bicara Gedung Putih Kush Desai optimistis bahwa meredanya konflik geopolitik di masa mendatang akan kembali membuka jalan bagi bank sentral untuk memangkas suku bunga.
Kendati demikian, para pengamat menilai isu kenaikan biaya pinjaman ini bisa menjadi bumerang bagi Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu mendatang. Para pemilih dinilai lebih peduli pada daya beli riil dan laju pendapatan yang kerap tergerus oleh kenaikan harga serta beban utang di tengah ketidakpastian pasar keuangan.