Penyanyi senior asal Inggris, Boy George, mengambil langkah tegas dengan mengakhiri kerja sama dengan manajer label rekaman yang telah mendampinginya selama bertahun-tahun, Tony Pontius. Keputusan ini diambil menyusul penolakan sang manajer untuk merilis singel terbaru Boy George yang berjudul "We Will Dance Again".
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Lagu bergenre pop reggae tersebut memicu kontroversi luas karena memuat lirik yang secara terbuka menolak tuduhan genosida terhadap kampanye militer Israel di Gaza. Dalam penggalan lirik pembukanya, sang musisi melantunkan kalimat "You say genocide, I say war" yang langsung menuai perdebatan tajam di ruang publik.
Melalui akun media sosial pribadinya, pentolan Culture Club ini membagikan cerita di balik perpisahannya dengan Tony Pontius yang mengelola label BGP miliknya. "Dalam Buddhisme kita memahami bahwa setiap tindakan pasti ada konsekuensinya. Keputusan saya untuk membela teman-teman Yahudi membuat saya harus kehilangan beberapa orang dalam hidup," tulis Boy George.
Ia mengungkapkan bahwa Tony Pontius secara tegas menyatakan tidak ingin terlibat sama sekali dengan lagu kontroversial tersebut. Mendapat respons penolakan yang keras, Boy George langsung mengambil keputusan kilat untuk mengakhiri hubungan profesional mereka tanpa ragu.
Lagu "We Will Dance Again" sendiri dibuat dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan atau AI serta terinspirasi dari kunjungan Boy George ke pameran Nova Music Festival Exhibition di London. Dalam pameran tersebut, ia sempat bertemu dengan orang tua dari Jake Marlowe, seorang warga negara Inggris-Israel yang menjadi korban tewas dalam serangan tanggal 7 Oktober 2023.
Sebelum pemutusan kontrak kerja ini, Boy George juga dikabarkan menarik diri dari keterlibatannya sebagai Raja Herod dalam pementasan musikal Jesus Christ Superstar di London Palladium. Kendati demikian, sang musisi bergeming dan bersikeras bahwa karyanya murni lahir dari niat mendamaikan serta menyuarakan sudut pandang pribadinya di tengah konflik yang memanas.