UEFA telah menggunakan sistem koefisien sejak 1979 sebagai alat ukur untuk meranking asosiasi dan klub di seluruh Eropa. Statistik berbasis rata-rata aritmetika tertimbang ini menjadi penentu berapa banyak wakil yang berhak tampil di Liga Champions, Liga Europa, dan Liga Konferensi Eropa.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Sistem ini membagi perhitungan menjadi tiga kategori utama, yakni koefisien asosiasi untuk pria, koefisien klub pria, serta koefisien untuk kompetisi wanita dan futsal. Setiap kategori memiliki metode perhitungan tersendiri yang disesuaikan dengan karakteristik kompetisinya masing-masing.
Koefisien asosiasi dihitung berdasarkan performa klub-klub dari suatu negara dalam lima musim terakhir di kompetisi Eropa. Setiap kemenangan diberi dua poin, hasil imbang satu poin, dan hasil adu penalti tidak mempengaruhi perolehan angka kecuali untuk bonus lolos ke babak gugur.
Bonus poin tambahan diberikan bagi klub yang lolos ke fase grup Liga Champions, fase gugur, serta pencapaian di Liga Europa dan Liga Konferensi. Poin yang terkumpul kemudian dibagi dengan jumlah klub yang berpartisipasi dari asosiasi tersebut pada musim bersangkutan.
Yang menarik, ranking UEFA tidak berlaku untuk musim berikutnya, melainkan untuk musim dua tahun setelahnya. Sebagai contoh, peringkat akhir musim 2022-23 menentukan alokasi tim untuk musim 2024-25, bukan 2023-24.
Mulai musim 2023-24, UEFA memperkenalkan aturan baru berupa dua European Performance Spots tambahan di Liga Champions. Dua asosiasi dengan koefisien musiman tertinggi mendapat satu jatah ekstra masing-masing, yang ditandai dengan huruf tebal dalam tabel ranking.
Dalam koefisien klub, UEFA menerapkan metode perhitungan yang sedikit berbeda. Poin kemenangan dan hasil imbang di fase grup dan gugur diakumulasi, sementara hasil babak kualifikasi hanya dihitung jika klub tereliminasi di putaran tersebut.
Untuk kompetisi wanita, sistem koefisien mulai diterapkan dengan formula yang simetris dengan versi pria. Klub-klub wanita mendapatkan poin berdasarkan performa di Liga Champions Wanita UEFA selama lima musim terakhir, ditambah 20 persen dari koefisien asosiasinya.
Sistem ini juga mencakup kompetisi amatir melalui UEFA Regions" Cup, futsal pria dan wanita, serta turnamen usia muda. Setiap kategori memiliki bobot dan periode perhitungan yang berbeda, mulai dari tiga hingga lima musim terakhir.
Namun, sistem koefisien UEFA tak luput dari kritik. Banyak pihak menilai metode ini cenderung melanggengkan status quo dan menguntungkan klub-klub dari liga kuat seperti Inggris, Spanyol, dan Jerman. Kritik lain menyebut sistem ini kurang memberi ruang bagi klub dari negara kecil untuk naik peringkat secara signifikan.