Berdasarkan pengamatan tim redaksi, ketegangan politik dan keamanan di kawasan Timur Tengah kembali memanas usai kelompok Houthi di Yaman secara resmi mengumumkan blokade laut terhadap pelabuhan dan kapal-kapal yang terafiliasi dengan Arab Saudi. Langkah agresif ini diambil sebagai bentuk aksi balasan atas serangan terhadap landasan pacu bandara yang menargetkan kepulangan delegasi Houthi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Menurut Analis Senior Indo Pacific Strategic Intelligence, Fauzia Cempaka Timur, ketegangan tersebut memuncak setelah delegasi Houthi kembali dari acara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Fauzia menjelaskan bahwa landasan pacu bandara yang menjadi jalur pendaratan rombongan Houthi dibombardir oleh pemerintah Yaman guna menghambat kepulangan mereka, yang diyakini Houthi mendapat dukungan penuh dari pihak Arab Saudi.
Dari pantauan redaksi, penutupan jalur maritim di Selat Bab el-Mandeb ini menjadi indikator kuat terjadinya eskalasi horizontal di kawasan tersebut. Selat strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden ini memegang peranan vital karena menyalurkan sekitar 12 persen dari total volume perdagangan global serta menjadi pintu masuk utama menuju Terusan Suez.
Menurut penilaian analis, penutupan Bab el-Mandeb menunjukkan bahwa Houthi mulai merealisasikan ancaman yang telah disuarakan sejak awal tahun. Meskipun eskalasi militer terus meningkat dan mendapat dukungan unjuk rasa dari ratusan warga Yaman, jalur diplomasi yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan pihak mediator Arab Saudi dinilai masih terbuka untuk mencegah pertempuran terbuka yang lebih luas.