Anthropic menyetujui penyelesaian senilai 1,5 miliar dolar untuk menyelesaikan perkara hukum terkait hampir setengah juta buku bajakan yang digunakan dalam sistem kecerdasan buatan mereka. Kendati demikian, putusan pengadilan yang sama tetap melindungi metode fisik perusahaan dalam mengonversi buku cetak menjadi data digital.
Perusahaan pengembang kecerdasan buatan tersebut diketahui membeli buku fisik secara sah, melepaskan jilidannya, memindai setiap halaman, lalu memusnahkan salinan aslinya untuk kebutuhan pelatihan model AI. Garis pemisah hukum tersebut terletak sepenuhnya pada metode perolehan materi yang digunakan perusahaan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePenyelesaian senilai miliaran dolar itu mencakup buku-buku yang diunduh dari situs perpustakaan bayangan seperti LibGen dan PiLiMi. Sebaliknya, pengadilan memperlakukan konversi satu banding satu atas buku yang dibeli secara resmi sebagai bagian dari penggunaan wajar atau fair use.
Pelatihan model AI menggunakan materi yang diperoleh secara sah juga dikategorikan sebagai tindakan yang bersifat transformatif oleh pengadilan federal. Langkah ini memberikan celah hukum bagi perusahaan teknologi untuk tetap memproses literatur cetak tanpa melanggar ketentuan hak cipta yang berlaku.
Dilema Hukum dan Penjual Buku Seken
Di sisi lain, para penjual buku bekas di Australia mulai mempertanyakan muara dari pesanan massal mencurigakan yang mengincar judul-judul langka berusia puluhan tahun. Meskipun belum ada bukti langsung yang menghubungkan pesanan tersebut dengan Anthropic, pola pembelian ini memicu tanda tanya besar di kalangan pedagang.
Penjual buku melaporkan adanya lonjakan pesanan besar melalui platform daring untuk sejarah lokal yang telah bertahun-tahun tidak laku terjual. Sejumlah pengiriman bahkan memenuhi beberapa kotak kardus dengan pembeli yang tidak mempermasalahkan harga tinggi.
Pihak pengelola toko buku menyatakan bahwa mereka memproses puluhan ribu salinan setiap harinya melalui operasi otomatis namun menolak membeberkan identitas pelanggan. Kerahasiaan ini membuat para penjual kesulitan memastikan apakah stok buku mereka berujung ke fasilitas pemindaian AI.
Kasus ini memperlihatkan batasan tegas dalam hukum hak cipta modern sekaligus rendahnya transparansi yang dihadapi penjual setelah buku meninggalkan rak toko. Pengguna diimbau untuk terus memantau perkembangan regulasi kecerdasan buatan demi melindungi hak kekayaan intelektual kreator.