Oxford United mencatatkan sejarah dengan meraih gelar Piala Liga pertama dan satu-satunya dalam perjalanan klub. The U's sukses menaklukkan Queens Park Rangers dengan skor telak 3-0 dalam final yang digelar di Stadion Wembley pada 20 April 1986. Laga yang dikenal dengan nama Milk Cup karena alasan sponsor ini disaksikan oleh 90.396 pasang mata.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Trevor Hebberd menjadi pembuka kejayaan Oxford setelah mencetak gol pertama di babak pertama. Keunggulan itu kemudian digandakan oleh Ray Houghton yang memperbesar jarak. Gol ketiga menjadi milik Jeremy Charles yang dengan sigap menyambar bola hasil tembakan John Aldridge yang berhasil ditepis kiper QPR, Paul Barron.
Kemenangan ini seharusnya membawa Oxford United terbang ke kompetisi Eropa. Namun, nasib berkata lain. UEFA masih memberlakukan larangan bagi klub Inggris untuk tampil di ajang Eropa akibat tragedi Heysel pada Mei 1985. Akibatnya, The U's harus rela kehilangan tiket ke Piala UEFA musim 1986-87.
Perjalanan Oxford ke final terbilang penuh perjuangan. Mereka masuk di babak kedua dan langsung menyingkirkan Northampton Town dengan agregat 4-1. Di babak ketiga, mereka mengandaskan perlawanan Newcastle United, sebelum secara mengejutkan menumbangkan juara bertahan Norwich City di babak keempat. Kemenangan 3-1 atas Portsmouth di babak kelima menambah daftar panjang korban Oxford, meski harus diwarnai aksi boikot penonton akibat kenaikan harga tiket.
Babak semifinal mempertemukan mereka dengan Aston Villa. Setelah bermain imbang 2-2 di Villa Park, Oxford memastikan tiket ke Wembley berkat kemenangan 2-1 di leg kedua. Gol dari Jeremy Charles dan Les Phillips menjadi penentu langkah The U's ke partai puncak.
Sementara itu, QPR juga melalui jalan terjal menuju final. Mereka membantai Hull City dengan agregat 8-1 di babak kedua. Di babak ketiga, mereka menyingkirkan Watford, lalu mengalahkan Nottingham Forest, sebelum melewati rintangan berat melawan Chelsea setelah harus melalui laga ulangan. Di semifinal, The Hoops berhasil mengalahkan juara bertahan Liga Inggris, Liverpool, dengan agregat 3-2, sebuah pencapaian yang cukup mengejutkan.
Jalur yang dilalui kedua tim sangat kontras. Oxford hanya bertemu dua tim Divisi Utama sebelum final, sementara QPR harus melewati lima tim Divisi Utama, termasuk juara Liverpool. Namun, di hari final, Oxford tampil lebih efektif dan berhasil memaksimalkan peluang. Kemenangan 3-0 menjadi bukti bahwa sepak bola tidak selalu berpihak pada tim dengan lawan terberat di perjalanan.