Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Jerman Kembali Wajib Militer, Pemuda...
BERITA

Jerman Kembali Wajib Militer, Pemuda Pro dan Kontra Bereaksi

By Dewi Lestari • 5 min read • 30 Juli 2026
Pemuda Jerman demo tolak wajib militer sementara tentara Bundeswehr berlatih di latar belakang

Pemuda Jerman demo tolak wajib militer sementara tentara Bundeswehr berlatih di latar belakang

Rayhan Butt, pemuda 18 tahun dari Bielefeld, Jerman Barat, tak bisa memisahkan hidupnya dari musik. Piano dan nyanyian adalah segalanya. Bulan depan ia akan magang di Bundeswehr, dan musim gugur ini bergabung penuh waktu sebagai bagian dari marching band tentara. Baginya, Bundeswehr punya reputasi bagus dan membuka peluang tampil di level tinggi, seperti di hadapan kanselir. Butt mendukung wajib militer sukarela dan yakin semua pemuda harus menempuh jalur pengabdian, baik militer maupun sipil.

Butt mengaku tak akan ragu bertempur jika dipanggil. Sebagai anak imigran yang mendapat kebebasan dan pendidikan bagus di Jerman, ia siap membela negara dengan nyawanya. Sikap ini sangat diandalkan pemerintah Jerman yang tengah berupaya meningkatkan rekrutmen militer. Bundeswehr menargetkan menambah 80.000 personel aktif menjadi 260.000 melalui rekrutmen sukarela, plus 200.000 cadangan. Target ini bagian dari Undang-Undang Modernisasi Dinas Militer yang berlaku sejak 1 Januari lalu.

Sejak Januari, lebih dari 300.000 surat dikirim ke pemuda 18 tahun untuk mengukur minat mereka bergabung dengan angkatan bersenjata, serta meminta informasi kebugaran fisik dan pendidikan. Surat serupa juga dikirim ke perempuan, namun mereka tidak diwajibkan secara hukum untuk menanggapi. Langkah ini menjadi salah satu strategi ekspansi militer Jerman yang dimulai 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina. Kanselir Friedrich Merz berjanji membangun "tentara konvensional terkuat di Eropa".

Tiga bulan lalu, Jerman merilis konsep militer baru yang memaparkan cara bertempur dan profil kemampuan. Moritz Graefrath, asisten profesor keamanan internasional di University of Oklahoma, menilai waktu perilisan dokumen itu lebih penting daripada isinya. Ini bagian dari upaya menunjukkan kepada Washington dan sekutu NATO betapa seriusnya Jerman kini dalam "meng-Eropakan" keamanan Eropa dan mengambil lebih banyak beban pertahanan kontinental. Ini sinyal komitmen yang relatif murah untuk berbagi beban dalam NATO.

Namun kebijakan konskripsi tak disambut semua pihak. Data resmi 14 Juli menunjukkan 6.000 pemuda telah mengajukan penolakan dinas militer dengan alasan "agama" dan "moral" sepanjang tahun ini, melebihi jumlah sepanjang tahun lalu. Klausul yang mewajibkan pemuda 17-45 tahun mencari izin untuk tinggal lama di luar negeri pun dicabut setelah mendapat tekanan, termasuk dari aktivis mahasiswa yang menggelar tiga demonstrasi besar dengan 50.000 peserta di 90 kota sejak Desember.

Bela Breitner, mahasiswa ilmu komputer 22 tahun di Bochum, tergabung dalam kelompok Schulstreik Gegen Wehrpfricht (Mogok Sekolah Menentang Wajib Militer). Kelompok ini terbentuk akhir tahun lalu sebagai respons terhadap "militerisasi" masyarakat Jerman. Breitner mengatakan banyak mahasiswa menolak langkah ini karena merasa tak mendapat hal positif dari negara dalam beberapa tahun terakhir. Mereka kehilangan kesempatan saat pandemi COVID, sistem sekolah kekurangan dana, dan kini dipaksa dilatih tempur. Suara mereka terabaikan.

Konskripsi pertama kali diperkenalkan Jerman pada pertengahan 1950-an dan baru dihentikan 2011. Graefrath mengatakan penghentian didorong faktor sosial dan perhitungan anggaran. Setelah Perang Dingin, perang di Eropa tak terbayangkan, sehingga kerangka wajib militer dianggap peninggalan masa lalu. Selain itu, pemuda Jerman bisa langsung kuliah, magang, atau bekerja tanpa harus menjalani wajib militer setahun. Kini Bundeswehr optimistis mencapai target, namun baru sekitar 500 rekrut yang terdaftar tahun ini.

Seorang politisi senior mengatakan Jerman harus memutuskan pada Juli 2027 mendatang apakah akan memberlakukan wajib militer wajib. Graefrath menambahkan keputusan itu bergantung pada penilaian tantangan geopolitik yang lebih luas, termasuk seberapa tidak dapat diandalkannya AS saat ini dan di masa depan, serta seberapa besar ancaman Rusia. Sementara itu, klausul izin tinggal luar negeri tetap dicabut selama wajib militer masih bersifat sukarela.

Aktivis Breitner menegaskan isu ini tak hanya menyangkut mahasiswa, tapi seluruh lapisan masyarakat. Kelompoknya akan terus memobilisasi dukungan. Ia percaya banyak orang di Rusia dan dunia punya mimpi dan ingin meraih hal lain selain berperang. Nilai-nilai seperti perdamaian, kebebasan, dan hak memilih lebih kuat daripada hal yang memisahkan mereka. Perdebatan wajib militer Jerman masih terus bergulir di tengah ketegangan geopolitik yang memanas.

Topics
jerman wajib militer konskripsi bundeswehr pemuda jerman friedrich merz rusia nato pertahanan eropa demonstrasi
Koresponden Internasional & Analis Global

Dewi membawa perspektif global untuk pembaca Kabayan News. Dengan pengalaman tinggal di Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura, ia memahami dinamika geopolitik dan ekonomi dunia. Kini berbasis di Jakarta, ia meliput bagaimana isu global berdampak pada Indonesia, dengan fokus pada hubungan internasional, perdagangan global, dan isu-isu kemanusiaan.