Kacamata pintar Meta kini menjadi sorotan tajam publik internasional setelah menuai kritik keras akibat celah privasi yang merugikan kaum perempuan. Perangkat canggih tersebut kerap disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk merekam dan melecehkan perempuan di ruang publik secara diam-diam.
Berdasarkan analisis, teknologi ini awalnya dikembangkan untuk memberikan kemudahan aksesibilitas bagi penyandang tunanetra dalam mengenali lingkungan sekitar. Namun desain perangkat yang terlalu menyerupai kacamata biasa justru dimanfaatkan oknum tertentu untuk melakukan aksi penguntitan tanpa terdeteksi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeLampu indikator LED kecil yang berfungsi sebagai tanda perekaman terbukti sangat mudah dimanipulasi menggunakan penutup khusus yang dijual bebas di internet. Celah keamanan ini memungkinkan pelaku merekam video secara ilegal dalam durasi panjang tanpa menarik perhatian korban di sekitarnya.
Bukan kali pertama perusahaan teknologi besar meluncurkan produk tanpa memperhitungkan aspek keselamatan secara matang bagi kelompok rentan. Sebelumnya, perangkat pelacak Bluetooth seperti Apple AirTag juga sempat disalahgunakan untuk menguntit pergerakan perempuan sebelum akhirnya perusahaan memperketat sistem proteksi keamanan.
Berbagai persoalan serupa terus berulang mulai dari algoritma iklan lowongan pekerjaan diskriminatif hingga manipulasi kecerdasan buatan yang merugikan perempuan di platform digital. Pengamat mendesak para raksasa teknologi agar lebih bertanggung jawab dalam merancang produk yang aman dan menjunjung tinggi privasi masyarakat.