Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Kehilangan Keluarga akibat Bandit,...
BERITA

Kehilangan Keluarga akibat Bandit, Ibu Nigeria Bangkit Lewat Jahit

By Redaksi Kabayan News • 5 min read • 30 Juli 2026
Safiya Musa perempuan Nigeria mengoperasikan mesin jahit di kamp pengungsian Jibia membuat tas tangan

Safiya Musa perempuan Nigeria mengoperasikan mesin jahit di kamp pengungsian Jibia membuat tas tangan

Mesin jahit Safiya Musa telah mengembalikan sesuatu yang dirampas kekerasan: kemampuannya menghidupi anak-anak. Namun mata pencaharian yang dibangun setelah kehilangan suami dan dua anaknya kini menghadapkan Safiya pada pilihan sulit, apakah kembali ke kampung halaman atau mempertahankan kemandirian yang susah payah diraih setelah terusir dari rumah.

Safiya tak ingat persis bulannya, hanya tahun 2023, ketika bandit bersenjata menyerbu kota Kankara di Negara Bagian Katsina. Suaminya bekerja sebagai petani dan pedagang makanan. Saat serangan terjadi, Safiya mengunci diri di kamar, sementara dua anak bungsunya, Umar (4) dan Maryam (6), bermain di luar. Suaminya sedang pergi ke ladang. Para bandit membunuh sekitar 20 orang saat meninggalkan kota. Tiga hari kemudian, Safiya mengetahui suaminya juga tewas.

Safiya melarikan diri ke Batsari dan bertemu kembali dengan tiga anaknya yang lebih tua, Sani (12), Hajara (10), dan Zubaida (8). Namun serangan bandit lain menyusul, memaksanya mengungsi lagi ke Jibia bersama tiga anak yang tersisa. Kini mereka tinggal di kamp pengungsian. Kenangan malam kehilangan keluarganya masih membekas. Setelah hening menyelimuti, Safiya mulai memikirkan suami dan anak-anaknya, namun semuanya sudah terlambat.

Pengalaman Safiya mencerminkan krisis yang melanda Nigeria barat laut. Lebih dari satu dekade, wilayah ini menghadapi serangan, penculikan, dan penggerebekan desa oleh kelompok bersenjata yang disebut bandit. Kekerasan memaksa ribuan keluarga meninggalkan rumah, mengganggu pertanian dan perdagangan, serta menyulitkan pemulihan hidup. Negara Bagian Katsina yang berbatasan dengan Niger menjadi salah satu wilayah terparah.

Setiba di Jibia, Safiya bertahan dengan pekerjaan serabutan, menggiling gandum dan melakukan apa pun demi menyambung hidup. Ia lalu terpilih dalam program pelatihan pembuatan tas tangan yang diselenggarakan United Nations Development Programme (UNDP) melalui Climate Security Project. Inisiatif ini memberikan pelatihan vokasi dan peralatan kepada perempuan terdampak konflik untuk memulai usaha kecil.

Muhammad Hamisu, koordinator proyek di Jibia, menjelaskan tujuan program adalah memberi kesempatan kemandirian. Setelah pelatihan, Safiya mengubah keterampilan menjahit menjadi sumber pendapatan. Ia mulai memotong kain, menjahit desain, dan memproduksi tas tangan untuk dijual. Pekerjaan itu tak menghapus luka, tapi mengembalikan kemampuannya menghidupi anak, yang sempat hilang setelah mengungsi.

Safiya mengaku dulu terbangun tanpa apa pun untuk diberikan pada anak-anaknya. Ada hari-hari ia menyuruh putranya mengemis makanan. Kini ia bisa memberi makan mereka sendiri. Pada Maret 2024, proyek tersebut melatih 20 perempuan di Jibia dan menyediakan mesin jahit serta bahan baku. Lokasi Jibia yang dekat perbatasan Niger memberi akses ke pasar lintas batas, termasuk wilayah Maradi, pusat komersial Niger.

Karima Sule (30) yang mengungsi empat tahun lalu mengaku mendapat sekitar 50 dolar AS per bulan dari usaha tas. Saat permintaan tinggi, pendapatannya lebih besar. Ia membantu suami dan membayar biaya sekolah dua anak dari hasil usahanya. Namun membangun usaha di wilayah konflik tetap sulit. Safiya mengaku kendala terbesarnya adalah modal membeli bahan baku. Saat stok habis tanpa dana, pelanggan pun hilang. Karima mengatakan kekerasan juga memengaruhi penjualan.

Abdussamad Ahmad Yusuf, peneliti keamanan manusia di HumAngle, mengingatkan aktivitas ekonomi yang berkembang justru berpotensi memicu risiko baru. Penculikan untuk tebusan di wilayah itu makin terarah. Ia menyarankan otoritas melakukan penilaian risiko keamanan secara rutin untuk mengidentifikasi rute dan pasar berisiko sebelum memperluas kegiatan komersial. Pemerintah Katsina membentuk Community Watch Corps pada 2023 untuk pengumpulan intelijen dan respons serangan.

Meski keamanan diklaim membaik di beberapa komunitas, banyak keluarga masih ragu kembali. Safiya berharap pulang suatu hari dan mempertemukan anak-anak dengan kerabatnya. Namun usahanya di Jibia menjadi alasan ragu. Bisnis tas memungkinkannya membeli makanan dan bergantung lebih sedikit pada pekerjaan tidak tetap. Meninggalkannya berarti kehilangan kemandirian yang susah payah dibangun. Safiya mendengar kondisi kampungnya membaik, tapi ia tak yakin bisa memulai lagi dari nol. Baginya, pulang bukan cuma soal keamanan, tapi juga kelangsungan hidup keluarganya.

Topics
nigeria bandit nigeria pengungsi nigeria safiya musa undp pelatihan menjahit katsina konflik nigeria perempuan pengungsi krisis kemanusiaan
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.